Esai / Perspektif / Sosial

Hoax dan Kebenaran dalam Jurnalistik

uangbaru

Sumber: Istimewa

Malam itu, beberapa teman di lingkungan rumah saya tengah asyik mengamati pecahan uang kertas yang baru saja diluncurkan dan diperkenalkan Bank Indonesia. Mereka terlihat sangat terkesan dengan desain pecahan uang kertas terbaru tersebut. Mungkin karena itu merupakan momen pertama untuk mereka.

Namun salah seorang diantara mereka tiba-tiba menceletuk, “uangnya sih emang bagus, tapi ada lambang komunisnya, bray. Lu perhatiin, deh!”

Teman saya yang menceletuk tadi segera memperlihatkan lambang rectoverso di uang tersebut, menurutnya menyerupai gambar palu dan arit, yang notabene memang lambang dari partai komunis.

Saya hanya mesem-mesem sendiri mendengar dan melihat tingkah teman saya ini. Kemudian saya sengaja bertanya padanya, tahu dari mana kalau lambang tersebut memang betul palu dan arit. Dia tidak menjawab, tapi justru bertanya balik, “Kalau bukan palu dan arit, kenapa gambarnya mesti begini? Emang enggak ada gambar dengan model yang lain yang bisa ditempel di uang ini?”

Saya pun hanya tertawa tanpa menimpali lagi pertanyaannya. Saya hanya mafhum. Yang jelas, saya sangat menyadari bahwa teman saya itu pasti cukup banyak mengonsumsi berita-berita hoax, belakangan ini berserakan di media sosial, termasuk berita soal lambang komunis di pecahan uang kertas terbaru yang dikeluarkan Bank Indonesia.

Teman saya itu sepertinya menjadi representasi kecil dari kondisi sebagian masyarakat saat ini. Selain dia, tentu masih banyak lagi orang-orang yang juga menjadi korban berita hoax. Walaupun sudah cukup banyak berita di media massa yang membantah tudingan bahwa lambang rectoverso dalam pecahan uang kertas terbaru adalah lambang komunis, tapi mereka enggan percaya. Mereka hanya mau meyakini informasi dari “media” atau pihak yang memang mendukung dugaan, asumsi atau kebenaran versi mereka saja.

Parahnya, media yang menyajikan informasi dan ternyata kontennya berlawanan dengan dugaan serta asumsi mereka, justru dihujat dan dilabeli dengan berbagai predikat, mulai dari media kafir, media antek komunis, media antek Cina, dan lain sebagainya. Dan menurut saya, gejala ini sangat memprihatinkan dan membahayakan, khususnya untuk kelangsungan hidup jurnalistik.

Dalam prosesnya, setiap pekerja media pasti selalu berupaya untuk memverifikasi setiap informasi yang tengah beredar luas di masyarakat kepada pihak-pihak terkait. Hal ini wajib dilakukan dalam rangka memperoleh suatu kebenaran.

Kebenaran dalam konteks ini bukanlah sesuatu yang mutlak. Kebenaran dalam jurnalistik, seperti dikatakan Bill Kovach dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme, adalah sebuah proses menuju sebuah pemahaman, yang runut, detail, dan lengkap. Artinya, kebenaran dalam jurnalistik merupakan sebuah perjalanan yang mesti ditempuh agar masyarakat atau publik bisa mendapatkan gambaran yang utuh tentang sebuah fenomena atau peristiwa di sekelilingnya.

Tugas atau perjalanan menuju pemahaman tersebut tentu mesti dilakukan dan dipikul oleh pekerja media. Mereka dituntut untuk mampu mengumpulkan sebanyak-banyaknya data atau keterangan terkait dari berbagai sumber dan narasumber, menjaga akurasi dan ketepatan informasi yang diperolehnya, memverifikasinya, tidak mencampurkan opini pribadi dalam laporannya, dan lain-lain. Semua upaya itu dilakukan agar kebenaran jurnalistik sebagaimana dikatakan Bill Kovach dapat tercapai.

Namun, ketika berita hoax marak di media sosial akhir-akhir ini, usaha dan upaya yang dilakukan para pekerja media dalam mencari dan mencapai kebenaran jurnalistik itu, menurut saya, menjadi sangat sia-sia dan percuma. Karena apa? Karena sebagian masyarakat, yang notabene tidak melakukan usaha dan upaya seperti mereka, justru hanya mempercayai dan meyakini informasi yang sesuai dengan dugaan, asumsi, dan “kebenaran” yang tertanam di dalam kepala mereka sendiri. Kebenaran yang tak bisa ditawar, apalagi dikritisi dengan data dan fakta yang berlawanan dengannya.

Jadi, untuk apa saat ini pekerja media bersusah payah mencari kebenaran dari sebuah fenomena atau peristiwa ketika kebenaran itu telah terlebih dulu lahir dalam kepala para pembacanya?

Ketika menulis hal ini, akun facebook Pewarta Foto Indonesia (PFI) baru saja melayangkan surat terbuka untuk akun facebook bernama Eko Prasetia. Surat tersebut merupakan respons PFI setelah Eko Prasetia, melalui akun facebook-nya, mengunggah sebuah foto yang menggambarkan beberapa awak fotografer yang tengah meliput persidangan Ahok di gedung Kementerian Pertanian. Dalam unggahannya, Eko menuding awak fotografer media tersebut sebagai tim cyber dan buzzer Ahok. Bahkan Eko menyebut mereka mirip seperti pekerja seks komersial asal Cina.

Saya melihat unggahan surat terbuka yang dilayangkan PFI tersebut. Saya juga sempat mengintip dan membaca kolom komentarnya. Dari dua ribu komentar lebih, saya kebetulan menemukan satu akun yang berkomentar, “Kalau bukan tim cyber dan buzzer-nya Ahok, ngapain pada nutupin muka pas difoto?”

Ah, komentar tersebut mengingatkan saya kembali kepada teman saya yang bertanya, “Kalau bukan palu dan arit, kenapa gambarnya mesti begini? Emang enggak ada gambar dengan model yang lain yang bisa ditempel di uang ini?”


“Iam” Kamran

Alumni Ilmu Jurnalistik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s