Esai / Perspektif / Sosial

Jangan Bilang Media Islam Kalau Tak Tahu Mana Hak dan Batil!

wartawan

Kredit foto: Istimewa

Malam itu, grup media sosial yang dipenuhi teman-teman kantor saya, dipenuhi pertanyaan kasak-kusuk. Mereka, yang mayoritas adalah reporter, sedang mempertanyakan soal benar atau tidaknya laporan bahwa salah satu teman, yang juga seangkatan dengan saya, uang operasionalnya selama empat bulan tidak dibayar.

Sebelumnya saya ingin menerangkan, media tempat saya bekerja adalah media yang selalu mendaulat dirinya sebagai bagian dari komunitas muslim. Kenapa muslim? Saya tak tahu dan tak mau tahu jawaban persisnya. Kepentingan saya di sini hanya bekerja; rapat redaksi penentuan angle, liputan, menulis berita, lalu dibayar, tanpa mau larut terlalu jauh.

Terkait kasak-kusuk dalam grup, seliweran obrolan  menjadi penuh duga dan prasangka. Sebagian mengaitkan tidak dibayarnya jatah uang operasional dengan produktivitas beritanya yang minim dan tidak memenuhi target. Sebagian lagi menautkannya dengan belum pandainya teman saya itu menulis berita.

Beberapa kali rapat bersama dengannya, saya harus mengakui, teman saya itu memang sering ditegur karena tulisannya, yang kata sebagian redaktur, masih acak-acak alias tak karuan. Baik pemilihan angle, diksi,  maupun struktur beritanya. Tak jarang juga redaktur melontarkan kata-kata, kalimat, yang sebagian teman saya nilai, merupakan entitas dari diskriminasi, atau mungkin pelecehan.

Saya tidak ingin terlalu jauh membahas hal itu. Karena mungkin itu adalah proses belajar yang harus dia lalui. Walaupun terlalu banyak kerikil pada jalannya, mungkin.

Obrolan dalam grup semakin sengit. Mereka tidak percaya ada redaktur yang benar-benar melecehakan hanya karena teman saya tidak bisa menulis sesuai keinginan mereka.  Sebagian masih coba menenangkan suasana dengan kalimat, “Mungkin itu cara redaktur ngajarin dia. Walaupun caranya kasar.”

Hal itu diungkapkan karena situasi tak bersuara itu justru semakin nyaring menggedor-gedor.

Topik utama pembicaraan akhirnya sempat kabur; upah tak dibayar. Namun, ada yang coba meluruskan lagi obrolan yang mulai melengkung itu. Saya sendiri, belum bicara apa-apa karena memang tak tahu mesti mengutarakan apa.

Kembali ke jalur, sejumlah teman menyarankan agar ada orang yang mendampingi teman saya ini mengahadap Redaktur Pelaksana News Room. Semacam melakukan advokasi agar bagian sumber daya manusia atau operasional untuk membayar upahnya, sekaligus memverifikasi apakah benar dugaan bahwa dia tak dibayar karena tak bisa menulis dan produktivitasnya minim.

Sebagian lagi masih belum bisa meredam berangnya pada kantor. Bahkan ada seseorang yang mempropaganda agar semua reporter mogok kerja alias tak liputan. “Pasti kantor bingung. Mau dapet berita dari mana kalo kita gak liputan?” kata seorang teman di dalam grup yang semakin riuh itu.

Grup itu sengaja saya non-aktifkan deringnya. Meskipun begitu, teriakan-teriakan dan hingar-bingar protes memang terlalu nyata untuk ditampik.

Propaganda itupun bersambut. Ada ide yang dilempar ke dalam keriuhan obrolan, yakni membentuk serikat pekerja. Iseng, Saya tulis dalam grup ‘Buruh Sedunia Bersatulah’.

Kutipan iseng juga dibabat habis oleh keseriusan untuk membuat serikat pekerja; “Bener, kita ini juga termasuk buruh-buruh. Gak adil kalau cuma karena tulisan, dia gak digaji. Dalam perjanjian kontrak, gak ada peraturan kayak gitu.”

Masih banyak lagi kalimat dengan seruan serupa untuk membentuk serikat pekerja. Tak dibayarnya upah operasional  teman saya itu seperti menjadi pemicu  kesadaran kelas teman-teman. Mereka tahu bahwa orang-orang yang berada dalam grup itu mesti senasib dan sepenanggungan. Hari ini situasi itu boleh jadi menimpa teman saya. Besok, tak ada yang tahu akan membekuk siapa?

Dan kalau harus ada yang dilawan dan disalahkan, tak lain adalah pihak kantor.

Ide pembuatan serikat buruh, tentu tidak terlalu buruk. Jika teman saya yang tak dibayar itu hanya melawan sendirian, mudah saja dia digilas. Tandas. Namun jika ada ancaman dari serikat pekerja, seperti mogok serentak, kantor tentu akan berpikir berulang-ulang.

Pertama, kantor pasti paling utama memikirkan stok berita yang kosong jika reporter seragam tak meliput. Kedua, kalaupun harus memecat karena melakukan pemboikotan semacam itu, kata seorang senior di kantor, kantor tak akan melakukannya. Karena ada undang-undang yang mengatur; jika kantor memecat, mereka harus membayar 20 juta atau 10 kali lipat gaji pegawainya. Saya lupa persisnya, tapi peraturan ini memang ada. Tentu perusahaan tak akan mau melakukan itu. Rugi!!

Untuk perekrutan reporter baru dalam jumlah banyak, hal itu tidak masuk akal. Mengingat, hampir dua bulan proses yang saya lewati sebelum masuk kantor.

Pada titik ini, tentu teman-teman telah memiliki posisi tawar yang cukup pada kantor. Tak bisa teman-teman dilecehkan atau diperlakukan dengan sewenang-wenang, macam tak dibayar hanya karena tulisannya kurang bagus. Padahal logikanya, memang sudah tugas redaktur mengajari reporter menulis. Sudah kewajiban mereka juga untuk menjahit setiap tulisan reporter. Kalau semua berita harus seperti dan presisi dengan yang para redaktur inginkan, seharusnya mereka yang tak dibayar. Karena tak ada satupun yang layak diupah dalam kerjanya.

Jadi, suka atau tidak suka, kantor harus patuh pada tuntutan teman-teman reporter, lalu membayar upah salah seorang teman saya itu. Konsep telah matang digodok dalam grup. Sepakat dan serentak untuk menghadap dan melaporkan ketidakadilan itu. Jika diabaikan, kantor harus terima bila korannya tak terbit esok hari.

Sebelum menutup obrolan, ada seorang teman menyindir, “Jangan bilang media Islam kalau gak bisa bedain mana yang hak dan mana yang batil.”

Bahkan seorang teman yang kebetulan duduk bersebelahan memperhatikan gempita grup itu berkata, “Boleh lah media Islam. Tapi kita kerja di sini bukan untuk amal. Justru sebaliknya!!”

Saya hanya senyum-senyum sendiri membaca dan mendengar pengakuan dua orang teman itu.


‘Iam’ Kamran
Alumni Ilmu Jurnalistik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s