Esai / Perspektif / Sosial

Setelah Hujan Bulan Juni: Jamsostek dan Hal-hal yang Belum Selesai

Sudah saya baca kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni. Tentang bait-bait seorang lelaki yang menyerah, yang merahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Ya, Juni selalu tabah melihat hujan yang selalu jatuh.

Juni kemarin, hujan datang lagi. Ia masih membawa rindu. Bukan rindu seorang kekasih yang gagal pertengahan di paruh tahun, lalu melarikan rindu kepada puis, yang dibawa oleh hujan. Juni kemarin, hujan datang bersama rindu ribuan buruh yang menggantungkan nasibnya dari upah yang ditahan negara.

Saya, secara kebetulan –kalau memang konsep kebetulan itu ada, termasuk ke dalam barisan buruh yang menahan rindu.

Untuk keperluan detail cerita, ada baiknya saya ceritakan kronologinya.

JUNI, 2010. Lima tahun silam adalah masa saat saya merayakan kebebasan. Saya baru saja menunaikan ibadah pendidikan 12 tahun lamanya. Alih-alih pesta minuman keras selayaknya pelajar merayakan kelulusannya, saya dan teman-teman berlomba untuk mendapat kerja. Maklum, iklim kompetisi yang dibangun di sekolah menengah kejuruan adalah untuk bisa lulus dan bisa langsung kerja. Tak perlu kuliah.

Tahun itu, saya memutuskan untuk kerja. Puluhan lamaran saya layangkan ke berbagai percetakan rekomendasi guru saya di SMK. Saya akhirnya mendapat kerja di sebuah percetakan kemasan di daerah Kapuk, Jakarta Barat. Hanya sebulan saya bertahan di sana. Alasannya, boleh kita berbicara di ruang yang lebih pribadi.

Syahdan, saya kembali menganggur, berleha-leha di rumah dan sesekali ke tempat di mana teman seangakatan saya, Zulfi, yang memutuskan untuk kuliah berdiam diri mengisi masa transisi ditemani dengan segelas minuman energi. Saat itu, Zulfi sangat merana sendirian. Saya dan temannya yang lain memilih untuk kerja. Ia merasa ditinggalkan oleh mereka yang tiga tahun belakangan mengisi relung hatinya.

Bulan Juni telah tiada, seperti awan yang tak sempat menyampaikan isyarat kepada hujan. Berganti oleh saudara mudanya, Juli.

JUNI, 2010. Saya mencoba menyebar lamaran lagi ke berbagai percetakan, kembali meninggalkan Zulfi sendirian. Dua minggu, lamaran langsung bersambut baik. Saya akhirnya mendapat kerja kembali. Kali ini adalah percetakan koran yang kemudian akan mengubah garis tangan saya.

Pertengahan Juli, saya sudah resmi bekerja di percetakan koran itu. Lembar kontrak untuk setahun ke depan sudah saya setujui. Asuransi, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) diberikan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Saya tak meminta, namun secara sepihak perusahaan itu memberikannya.

Oleh karena itu, secara otomatis saya terdaftar dalam asuransi, NPWP dan Jamsostek. Saat itu saya tak mengerti apa guna ketiga kartu tersebut. Teman saya di tempat kerja yang menjelaskan perihal tiga kartu yang, tidak bisa tidak, menambah bobot dompet saya.

Setengah bulan pertama saya bekerja, saya menerima lebih dari setengah upah saya di perjanjian dalan kontrak kerja. Namun, saya belum mendapat slip keterangan upah kerja. Bulan berikutnya, Agustus, barulah saya mendapatkan slip keterangan upah saya. Di sana, terdapat beberapa potongan yang cukup besar untuk upah yang tak bisa dibilang besar. Lantas saya bisa apa?

Bulan demi bulan saya lewati hingga pertengahan tahun 2011. Berbekal pengetahuan dari koran yang saya cetak sendiri, saya akhirnya memutuskan untuk kuliah. Saya tak akan mengambil jurusan percetakan, batin saya. Setahun itu cukup bagi saya untuk jenuh dengan tinta, kertas, dan suara mesin yang memusingkan. Saya akan menjadi orang yang memroduksi tulisan melalui koran ini, bukan memroduksi koran melalui mesin cetak.

Iman saya sudah kuat. Langsung saya mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta yang melulu memasang banner Andy F. Noya –salah satu alasan akhirnya saya terjerumus di Kampus Tercinta. Dengan mendaftar di perguruan tinggi, saya tak lantas meninggalkan pekerjaan saya. Saya telah meneken kontrak untuk setahun kemudian. Atasan saya pun tak terpengaruh oleh keputusan saya untuk kuliah.

“Kuliah lu pagi kan? Yaudah. Lagian lu kerja malem. Yang penting kerja lu bener,” ujar Mang Irwan, atasan saya menyetujui permintaan saya untuk kuliah.

Semester pertama di perguruan tinggi, saya tak bisa banya bergerak. Waktu saya tersita untuk kuliah, tidur dan bekerja, serta berteater. Hingga akhirnya, saya mengalami kecelakaan motor di Pasar Minggu, saat malam hendak berangkat kerja. Tidak parah, namun bisa menjadi alasan saya untuk tak masuk kerja.

Saat itu adalah masa kebimbangan saya untuk meneruskan kerja ayau tidak. Di percetakan koran itu, memang bukan saya sendiri yang bekerja sambil kuliah. Ada dua orang lainnya. Akhirnya, Desember 2011 saya memberanikan diri untuk berhenti kerja.

“Mang, gue mau berenti kerja nih, fokus jadi mahasiswa aja,” ucap saya kepada Mang Irwan.

“Udah lu omongin sama emak lu?” tanyanya.

“Udeh, Mang.”

“Yaudah, lu bikin surat pengunduran diri aja. Masuk baik-baik, keluar juga mesti baik-baik. Ikutin peraturan. Lu kuliah yang bener. Siapa tau nanti bisa balik lagi. Lagian, kalo lu mau tetep kerja di sini mah, tunggu gua mati dulu, baru lu naek pangkat,” wejangan Mang Irwan kepada saya sebelum saya berhenti kerja.

Saya mengikuti saran Mang Irwan itu, menulis surat pengunduran diri sebulan sebelum pergi. Saya sempat menanyakan apa tiga kartu tadi, asuransi, NPWP dan Jamsostek masih berfungsi. Teman saya menjelaskan kalau Jamsostek bisa diambil uangnya, kalau sudah lima tahun. “Sisanya, lu buang aja,” selorohnya.

Akhirnya, berbekal surat keterangan kerja (paklaring), saya resmi berhenti kerja di percetakan koran pada Januari, 2012. Mulai saat itu, saya sepenuhnya menjadi mahasiswa.

JUNI, 2015. Saat itu harusnya saya sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsi. Namun perkara hal-hal yang tak bisa disebutkan di sini, saya harus menyusunnya semester depan.

Sekilas, berkelabat ingatan saya pada saat saya masih bekerja. Teman saya yang juga sudah berhenti kerja dari percetakan koran itu mengajak saya untuk mengurus Jamsostek. Boleh juga nih, bisa nambahin modal skripsi, batin saya.

Akhir Juni, saya menuju gedung Jamsostek di daerah Gatot Subroto. Ternyata, nama saya baru terdaftar di Jamsostek pada Juli 2010. Dan persyaratan untuk mengeklaim dana Jamsostek itu sudah terdaftar lima tahun ditambah satu bulan masa tenang. Artinya, baru Agustus nanti Jamsostek saya bisa dicairkan.

JULI, 2015. Saya tetap menjalani puasa seperti yang lainnya. Berbuka bersama dan menikmati masa-masa setelah ujian akhir semester adalah perpaduan yang asyik dilakukan di bulan puasa. Namun keasyikan itu tiba-tiba terganggu. Sejak berubahnya Jamsostek menjadi BPJS, dana klaim Jamsostek tak lagi bisa dicairkan setelah lima tahun terdaftar keanggotannya, tapi menjadi 10 tahun. Itu pun hanya 10% yang bisa diambil atau 30% kalau sedang menyicil rumah. Dana penuh bisa diambil kalau peserta telah memasuki usia pensiun: 56 tahun, atau meninggalkan Indonesia, atau cacat, atau mati.

Padahal, dana Jamsostek adalah upah saya yang secara sewenang-wenang dipotong dari neraca yang tidak saya ketahui.

Saya adalah orang dalam barisan buruh yang mempertanyakan kebijakan baru ini. Kami, saya dan buruh-buruh itu, dahulu ketika membuat Jamsostek sepakat dengan peraturan yang lama. Bukan yang seperti ini. Dan, kami tak selamanya menjadi buruh sampai memasuki usia pensiun. Adapula yang memiliki keberanian untuk wirausaha dan perlu modal, misalnya. Ataupun sampai alasan yang paling tengik sekalipun, modal membuat skripsi.

Juni sudah lewat meninggalkan hujan. Ia begitu arif, menjadi saksi hujan yang membiarkan rindunya tak terucap, untuk diserap akar pohon bunga itu. Tak seperti Juli, saudara mudanya, yang hanya menjadi saksi kesewenangan penguasa menentukan kapan buruh-buruh perlu uang.

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu*


Bayu Adji P
Mahasiswa Ilmu Jurnalistik IISIP Jakarta

*Bait ke-dua puisi Hujan Bulan Juni

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s