Opini / Perspektif / Sosial

Tradisi Sehabis Panen di Kasepuhan Karang

10001395_906582676050892_242210189890376470_nLebak 4 mei 2015 lalu, saya mengunjungi Komunitas Sabaki yang berada di Desa Jagaraksa, Kasepuhan Karang, Kecamatan Muncang. Sambil melihat pohon dan tanah di sekitar jalan yang begitu subur, udara yang sejuk serta hamparan tanah yang subur manyambut saya di Desa Jagaraksa. Inilah sentra produk pertanian rakyat yang melimpah. Produk-produk tersebut merupakan sumber pendapatan warga masyarakat yang mayoritas adalah petani di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Desa Jagakarsa merupakan salah satu penghasil produk pertanian. Desa ini hidup dari bercocok tanam, dapat dilihat dari kondisi lahan tanah yang mayoritas sangat subur untuk memacu produktifitas termasuk padi, serta didukung dengan perairan yang mencukpupi.

Jumlah penduduk yang tercatat di Desa Jagaraksa secara administratif yaitu berjumlah 2.504 penduduk (1.278 jiwa laki-laki dan 1.226 jiwa perempuan). Kontrol pengawasan yang dilakukan oleh pengawas desa dan masyarakat di Desa Jagaraksa berjalan baik sesuai dengan aturan yang ditetapkan dari Kabupaten Lebak. Laporan pertanggungjawaban desa dilakukan oleh Komunitas Karang Desa Jagakarsa.

Di desa ini, ada suatu tradisi dari Kasepuhan Karang yang harus tetap dijaga dan dilestarikan, yaitu membawa hasil padi yang sudah di panen. Karena padi tersebut harus disimpan di leuit, untuk membawa padi yang sudah dipanen harus menggunakan rengkong. Rengkong tersebut terbuat dari bambu. Kegiatan ini biasanya diiringi oleh musik yang dihasilkan dari suara bambu.

Selain itu juga ada tradisi pantang. Pantang berarti melarang semua komunitas masyarakat adat di Kasepuhan Karang untuk berpergian ke hutan atau beraktifitas, seperti mencuci, mencari kayu atau mengambil buah-buahan, tidak boleh dilakukan oleh masyarakat. Setelah waktu larangan habis, semua warga berkumpul di tengah jalan sambil membawa bubur yang manis dan asin. Bubur tersebut akan dibagikan ke masyarakat adat harus didoakan supaya mendapatkan keberkahan dari yang maha kuasa.

Menurut Aceng Bassuddewa, salah satu anggota Barrisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), tradisi ini adalah bertujuan agar semua warga berdoa bersama. Acara tersebut biasanya dipimpin oleh tokoh masyarakat adat yang berada di Kasepuhan Karang.

Acara biasa dimulai dari pagi sampai sore. Kegiatan ini dilakukan di tengah jalan sambil membawa bubur. Setelah itu mereka melaksanakan doa bersama untuk mencari keberkahan dari sang pencipta. Seluruh masyarakat selalu mengikuti tradisi ini, mulai dari anak kecil sampai dengan orang tua.

Ada tradisi lain juga yang biasa dilakukan ketika panen, yaitu menyembuhkan padi (ngubaran pare). Tradisi ini bertujuan supaya Desa Jagakarsa terhindar dari penyakit.

Beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Jagakarsa ini merupakan suatu kearifan lokal dari nenek moyang yang harus dilestarikan dan dipelihara. Tujuannya tentu saja, agar manusia tidak lupa kepada alam yang telah menghidupinya selama ini, bukan mengeksploitasi alam.


Moh. Jumri
Mahasiswa Politik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s