Event / Opini / Politik

Tradisi Mengulang Kesalahan

Kredi foto: Cinta Bening Swara

Kredi foto: Cinta Bening Swara

Minggu kemarin, Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (Himajur) IISIP Jakarta, baru saja mengadakan kongres tahunan. agendanya, tentu saja mengganti ketua umum. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Kejadian ini mengingatkan saya kepada masa ketika mencalonkan diri sebagai presiden Badan Eksekutif Mahasiswa IISIP Jakarta periode 2014-2015, setahun yang lalu.

Kongres Himajur dimulai pada tanggal 24 mei 2015 di ruang AVA-A, IISIP Jakarta. Ketua presidium sidang, yang notabene menjadi pimpinan tertinggi di Himajur pada masa transisi kepengurusan, meysosialisasikan rapat anggota yang mengundang anggota Himajur (seluruh mahasiswa jurnalistik) dalam rapat anggota pada tanggal 25 Mei 2015 di sekretariat Himajur. Agendanya, meninjau kembali panitia pemilihan umum (KPU). Namun, alih-alih mengundang, panita justru mambatalkan rapat anggota. Pasalnya, panitia telah terbentuk dalam rapat pengurus.

Hal ini tentu saja bertentangan dengan peraturan yang tertulis di Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Himajur. Dalam Anggaran Rumah Tangga disebutkan bahwa panitia dibentuk dalam rapat anggota, bukan rapat pengurus.

Pada tanggal 29 Mei 2015 undangan via pesan elektronik tersebar untuk rapat anggota pukul 18.00 WIB. Hingga jam 19.00 tak ada tanda-tanda kehadiran dewan presidium maupun ketua KPU. Akhirnya satu per satu orang-orang mulai meninggalkan sekretariat Himajur.

Utusan sang ketua presidium datang membawa pesan dari ketua presidium bahwa rapat dibatalkan (lagi).

Entah apa alasannya rapat anggota itu dibatalkan begitu saja, hingga akhirnya ada segelintir anggota Himajur yang mengajukan surat gugatan pada presidium. Isinya tentu saja ketidaksepakatan dengan mekamisme yang dijalankan dan kinerja panitia pemilu.

Sedangkan ketika dikonfirmasi keberadaan ketua presidium, jawabanya ada ‘di bilik’. Hal ini diketahui ketika saya meminta nomer telepon ketua presdir dan melihat pesan yang ada di blackberry messenger-nya.

Pada 30 Mei 2015 pemilihan umun ketua Himajur tetap dilaksanakan, tanpa ada sosialisasi penuh soal peraturan untuk pemilih, data pemilih, bahkan sampai peraturan penghitungan suara semuanya belum jelas.

Ini sebenarnya menjadi hak bagi para kandindat untuk mengetahui mekanisme dan peraturan pemilihan untuk mencapai tujuan, yaitu meraih suara terbanyak. Atau, mulianya menjadi sumber informasi bagi para pemilih mungkin juga sebagai tinjauan untuk para tim sukses masing-masing kandidat.

Ada empat kandidat yang maju menjadi calon ketua otomatis harus ada presentase suara, apakah satu putaran atau dua putaran pemilihan. Entahlah! Hanya panitia pemilu yang mengetahui hal tersebut.

Sosialisasi yang minim selalu terjadi di himpunan terbesar yang ada di IISIP Jakarta. Apakah ini sebuah kesalahan? Atau sudah menjadi tradisi?

Jangan-jangan ini adalah kesalahan yang sudah menjadi tradisi.

Kesalahan yang terus berulang, suara-suara minoritas diredupkan dan kepentingan tetap dikedepankan.

Hal ini hanya diabaikan begitu saja, pun oleh para calon kandidat. Semua kandidat mempunyai visi misi yang akan membawa Himajur ke dalam hal yang baik. Namun nyatanya, semua takut dan mengumpat dari kebenaran yang harus ditegakan, menjauh dari jalan yang harus diluruskan.


Cinta Bening Swara
Mahasiswa Jurnalistik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s