Esai / Politik

Ilusi Subsidi Tepat Guna, Kritik Atas Subsidi Tepat Guna untuk Semua

DSC_0527

Tulisan ini untuk menanggapi tulisan Sherly Febrina [1]

“Walaupun hidup seribu tahun kalau dikangkangi sistem yang kapitalistik apa gunanya.” Sepertinya petikan ini cocok untuk menanggapi kalimat, “Semoga terjadi perkembangan menuju ke arah yang lebih baik setelah ini.”

Tahun lalu BBM naik lagi, Samin tak sengaja membaca tulisan yang berjudul “Subsidi Tepat Guna untuk Semua”. Samin si bocah kemarin sore menyimpulkan tulisan tersebut berharap pada pemerintah atas kebijakannya menaikan harga BBM bersubsidi yang akan dialihkan ke sektor produkif akan berdampak baik ke depannya. Tapi Samin sudah gerah dengan apapun kebijakan yang merugikan banyak orang termaksud dirinya.

Bagi Samin, sah-sah saja orang mau berpendapat apa, walaupun tidak semua orang tahu Samin si tukang koran ini akan berubah menu makannya, akan terus berkurang upahnya, akan menggunung utangnya ketika harga BBM dinaikan. “Jangankan bener-bener dinaikin, baru rencana aja gue udah makan nasi pake garem. Giliran turun, eh harga yang tadinya naek gak ngikut turun, setan alas,” keluh Samin.

Apa yang dirasakan Samin memang banyak dirasakan oleh masyarakat di Negara ini. Samin bingung Pemerintah menaikan harga BBM alasannya itu-itu saja.[2] Lebih heran Samin mengakatan “Kok bisa ya Pemerintah bilang BBM itu sektor konsumtif?” Samin mulai berhitung-hitung berapa banyak orang menggunakan BBM subsidi, rata-rata untuk apa BBM subsidi itu digunakan, siapa saja yang menggunakan BBM besubsidi (pengguna motor/mobil/dll), sampai pada kesimpulan Samin memutuskan BBM itu adalah sektor produktif, tetangga saya punya motor pake BBM subsidi dan motor itu dipake buat kerja, kok itu dibilang konsumtif? Kalo jumlah kendaraan pribadi yang dipermasalahkan, kenapa pemerintah tidak membuat dulu ya mode transportasi yang murah, nyaman, dan cepat?

Bagi Samin BBM itu sangat sensitif karena bisa mempengaruhi semua barang, BBM seperti darah yang digunakan pabrik untuk mendistribusikan barangnya. Kelar dengan persoalan alasan pemerintah dan persoalan sektor BBM Samin menyinggung persoalan pengalihan subsidi, “Loh kok ini kayak negara Barat yang lagi krisis ya? Pengalihan subsidi lah, penghematan anggaran lah.”

Samin tak berhenti berkomentar, “Kalo emang pemerintah berniat baik mengalihkan sektor ke yang lebih produktif, sampe sekarang apa ya program kerja yang dibilang untuk sektor yang produktif?”

Samin memang lugu. Iya kebingungan dan terus bertanya, “Emangnya harus ya menaikan BBM buat menghemat?[3] Samin teringat lagi alasan kenaikan BBM yang akan dialihkan ke pendidikan, kesehatan, dll. Namun Samin tak lelah berkomentar, “Kalo dialihkan ke pendidikan, sementara dengan adanya UU PT yang merupakan perubahan wujud dari BHMN ini sama aja, UU PT jelas-jelas mekanisme pasar[4], orang kayak gue bakal kecekek kalo mau lanjutin pendidikan.” Samin mulai kelelahan, tak mau lagi berkomentar dan juga baru teringat harus tetap menjual koran yang masi menggumpal di tangannya.

Ada cerita menarik dari Samin, sikapnya yang tak menelan mentah-mentah dan tetap kritis ini memang patut diacungi jempol, sorang bocah kamaren sore dan tukang koran yang tak menyia-nyiakan korannya, dibalik seorang Samin yang amburadul ternyata rajin mengkliping koran-korannya.

Beberapa tahun berselang setelah kenaikan BBM tahun lalu, beberapa kali pula BBM naik dan turun lagi, tidak ada perubahan yang lebih baik tapi perubahan harga barang sangat banyak. Belum lagi sektor-sektor yang lain yang akan dikenakan pajak. Apa yang dikhawatirkan Samin terjawab cepat. Ketika pemerintah menaikan BBM dengan alasan yang dikemas begitu baik, ternyata itu hanya ilusi. Ilusi subsidi tepat guna untuk semua.

Kalau memang pemeritnah dengan segala kerendahan hatinya mau menghidupkan sektor produktif sampai sekarang ini justru berencana dengan kebijakan-kebijakan yang kontra produktif. Kesehatan yang dianggap sektor produktif dengan BPJS sebagai penyelenggaranya justru akan menaikan iuran premi tiap bulannya[5] padahal terjadi hampir sepuluh ribu kecurangan yang dilakukan BPJS[6], dimana uang pengalihan subsidi BBM untuk sektor produktif?

Belum lagi, pemerintah berenca memberikan bantuan Rp. 1 triliun untuk partai politik padahal selama ini partai menerima bantuan Rp. 2,5 miliar[7], apakah memberi subsidi pada partai politik merupakan sektor produktif? Jadi subsisi BBM kontra produktif? Dan, pemerintah hari ini telah menaikan tunjangan kendaraan pejabat menjadi Rp. 210,89 juta dengan landasan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2010 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka Bagi Pejabat Negara untuk Pembelian Kendaraan Perorangan[8], jadi subsidi BBM telah dialihkan ke sektor yang produktif yaitu untuk kendaraan pejabat.

Bertahun-tahun dan berkali-kali kita diberikan harapan palsu namun tak mampu move one dari kegalauan cinta monyet ini, pemerintah telah berhasil mengilusi yang seolah-olah tidak ada jurang pemisah diantara kita[9].

Lilik Hs pernah menyatakan, “Seraut senyum mengembang, seperti mengejek. Mungkin menertawakan bangsanya yang blingsatan tak berdaya. Bingung menentukan mana pahlawan, mana diktator. Siapa pemimpin dan siapa koruptor. Di negeri ini, bahkan kita harus bekerja keras, sangat keras, untuk tidak frustasi, hilang akal, dan hilang ingatan.”[10]

Larut malam, akhirnya Samin sampai di rumah, tapi kawannya mengajak untuk sekerdar nonggkrong. Samin menolak dengan kutipan puisi Wiji Thukul “…besok pagi kita ke pabrik, kembali bekerja, sarapan nasi bungkus, ngutang seperti biasa”.[11]

Tertawalah mereka sebentar menanggung harga-harga yang melambung tinggi.

Catatam kaki:
[1] Sherly Febrina, Subsidi Tepat Guna untuk Semua http://buletin.teaterkinasih.org/konten-utama/angkringan/item/192-subsidi-tepat-guna-untuk-semua
[2] Rezim Jokowi-JK dan Alasan Basi Konsumsi BBM http://indoprogress.com/2014/11/rezim-jokowi-jk-dan-alasan-basi-konsumsi-bbm/
[3]
Menghemat Tanpa Menaikan: Simulasi Perhitungan BBM Bagian 1 http://indoprogress.com/2014/11/menghemat-tanpa-menaikkan-simulasi-perhitungan-bbm-bagian-1/ Bagian 2 http://indoprogress.com/2014/11/menghemat-tanpa-menaikkan-simulasi-perhitungan-bbm-bagian-2/ Bagian 3 http://indoprogress.com/2014/11/menghemat-tanpa-menaikkan-simulasi-perhitungan-bbm-bagian-3-selesai/
[4] Alasan Menolak UU Pendidikan Tinggi http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20120714/alasan-menolak-uu-perguruan-tinggi.html
[5] Menggugat Kenaikan Premi BPJS http://www.rekanindonesia.org/2015/03/menggugat-kenaikan-premi-bpjs.html
[6] Fraud Pelayanan BPJS https://www.youtube.com/watch?v=OVUETuH4G8I&feature=youtu.be
[7] Parpol Disehatkan, Fasilitas Kesehatan Minim http://chirpstory.com/li/256851
[8]
Media Indonesia “Tunjangan Kendaraan Pejabat Naik”. Hal. 4, Kamis 2 April 2015

[9] Kisah Cinta Hubungan Jarak Jauh http://tikusmerah.com/?p=798
[10] Senyum Soeharto http://indoprogress.com/2013/03/senyum-soeharto/
[11] Wiji Thukul, Nonton Harga 18 November 1996


Ahmad Muhajir
Mahasiswa Ilmu Politik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s