Cerpen

Sore di Perpustakaan

Perpus_ruangbaca

Foto: iisip.ac.id

Hari itu adalah hari Sabtu di akhir November. Keadaan kampus IISIP Jakarta panas sekali di siang hari. Waktu tersebut sebenarnya sangat pantas untuk menghistirahatkan diri di rumah dan menonton acara kesukaan di televisi. Namun apa daya, tugas kuliah yang belum selesai memaksa saya untuk berkutat lagi dengan rutinitas yang memuakan, belajar.

Segelas kopi dan beberapa batang rokok mulai menemani saya siang itu, tugas kembali harus dibuka dan dikerjakan. Saya memasuki ruangan perpustakaan demi mendapatkan keheningan yang alami.

Ada sesorang yang saya kagumi di perpustakaan, orang itu kabarnya bernama Rizki. Bagi saya bak representasi bunda Maria, dia adalah teman sekelas Analisis Wacana yang diajar oleh dosen muda. Wajahnya sunguh aduhay, bola matanya terlalu silau untuk dilihat dengan mata telanjang. Siapapun yang tidak gay, akan suka kepadanya. Ini bukalah subjektivitas semata. Sungguh.

Sialnya keadaan perpustakaan berbanding terbalik dengan kecantikan orang yang saya kagumi tadi. Perpustakaan IISIP sangat kacau. Saya ingin mencari buku di server komputer perpus, apa daya. Komputer tak bisa di akses. Ada empat komputer di sana. Tiga komputer mati, satu menyala. Sialnya yang menyala tak bisa bekerja. Lebih baik dipecahkan saja.

Beberapa kali Bayu, rekan kelompok saya mondar-mandir untuk menanyakan kejelasan server komputer demi mampu mengakses buku pinjaman. Apa daya, oprator perpus sedang makan siang. Menunggu lagi, menunggu orang makan, menyebalkan.

Komputerpun bisa diakses pada akhirnya. Buku berhasil dipinjam. Tugas dikerjakan lagi. Ah sudahlah. Lupakan tuganya. Karena memang tak terlalu penting. Anggap saja tugas ini sudah selesai. Orang yang saya kagumi pada akhirnya tertidur lelap di antara meja perpustakaan.

Menyenangkan bisa melihat ia tertidur. Ada sebuah keindahan di sana. Saya bisa melihat bagaimana cantiknya proses relaksasi yang tengah dijalaninya saat itu. Ingin sekali membuatkan puisi untuknya saat ia terbangun nanti, namun hal itu terpaksa saya urungkan karena keberanian saya belum mencapai titik nadir. Biarlah. Cukup untuk saya mengagumi tidurnya.

Tak berapa lama, ia pergi dari perpustakaan. Entah kemana. Seiring dengan kepergiannya, hujan turun dari kaki langit. Langit seakan menangisi kepergiannya dari perpustakaan. Ah sudahlah, sampai bertemu di kelas Analisis Wacana.


Heri Susanto
Mahasiswa Jurnalistik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s