Opini / Sosial

Apa Pentingnya Disini Kita Berjumpa?

Dok. DKB

Dok. DKB

DUA HAL PALING MENGGELIKAN di semester ini adalah aturan baru yang mengharuskan mahasiswa keluar dari kampus sebelum jam enam malam, dan kabar bahwa rektor kita telah menandatangani nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) dengan Polda Metro untuk operasi mendadak ke dalam kampus. Itu adalah buntut dari penggeledahan kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) di Universitas Nasional beberapa waktu lalu.

Dua hal itu, seolah ingin mengatakan, mahasiswa, di UNAS atau di mana pun, itu sama saja. Semua mahasiswa, itu bahaya, maka kebebasannya harus diredam. Tidak kah itu menggelikan? Ya, generalisir ditakdirkan, kalau tidak jadi hal yang menyebalkan, ya menjadi hal yang sangat menggelikan.

Namun sialnya, yang lebih menggelikan lagi, ada mahasiswa-mahasiswa yang diam-diam berharap mukjizat datang dan pihak rektorat mengubah regulasi busuk tersebut, agar mengembalikan jam mahasiswa seperti semula, dan berharap rektor tidak bekerja sama dengan polisi untuk melakukan operasi mendadak. Mereka, tampak tidak memiliki cara lain untuk hidup, untuk berekspresi, untuk bebas, selain dengan cara menghamba pada otoritas dan mengharapkan mukjizat.

Tapi silahkan tarik nafas sejenak, sebab di tengah kemiskinan mahasiswa seperti itu, kita mendapati Disini Kita Berjumpa hadir kembali. Acara ini terbebas dari lengking pluit satpam yang mengaba-abakan bubar teratur kepada mahasiswa, padahal hari masih pagi dan pelacur bahkan belum sudi turun ke jalan.

Acara yang dicipta dengan dana kolektif dari mengamen, menjual kaos, stiker, dan lain-lain, tanpa mengemis donasi pada otoritas ini, adalah event bagi mahasiswa-mahasiswa yang menolak menggantungkan hidup pada otoritas. Karena itu, acara ini adalah murni milik mahasiswa. Karena itu, acara ini menjadi begitu penting.

DKB mengisyaratkan makna bahwa ada banyak cara melepas penat rutinitas kampus yang miskin dan membosankan. DKB adalah medium bersenang-senang ketika kita merasa lelah karena berpura-pura nyaman dengan dosen-dosen yang kolot dan bergerak begitu lambat, sedangkan dunia telah begitu modern dan bergerak begitu cepat.

DKB adalah sarana penyaluran ekspresi ketika hasrat kita terpendam begitu dalam karena sibuk mencari nilai A, padahal itu adalah hal yang sia-sia, selain karena itu adalah hal yang semu, nilai A hanyalah milik Tuhan, katanya.

Di acara ini, lintas generasi, lintas tongkrongan, bersatu dan bercengkrama dalam satu irama. Saya berani bertaruh, 13 band yang akan bermain di Maitrin Café, Pulo Mas, Jakarta Timur pada Jumat, 6 Desember 2014, membuat anda gagal untuk tidak berdansa, membuat anda gagal untuk tidak bersorak sorai. Apa lagi bila Timebomb milik Rancid dimainkan!


May Rahmadi
Mahasiswa Ilmu Jurnalistik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s