Esai / Sosial

Mitos Anti-Kiri dan Penjara Intelektual

statik.tempo.co

Adegan film Penghianatan G30S/PKI. indonesianfilmcenter.com

Siang itu kampus saya masih ramai oleh kesibukan mahasiswa. Setiap sudut memiliki cerita dan obrolannya masing-masing. Sedangkan saya masih tergesa menuju ruang dosen,menemui dosen pembimbing skripsi.

Semester genap baru saja mulai. Proses skripsi memasuki tahap penyerahan bakal judul penelitian. Dan saya telah menetapkan satu topik untuk diteliti, yakni perihal foto sejarah 65 yang dimuat majalah edisi khusus Tempo.

Terlahir sebagai generasi 90-an,tentu saya tidak begitu paham tentang apa pun soal peristiwa itu. Tapi yang jelas, edisi Tempo itu mengantarkan saya untuk menelitinya. Setidaknya, saya akan menemukan kebenaran versi saya sendiri.

Di muka pintu ruangan, dosen pembimbing terlihat jumawa, duduk tenang sambil memainkan gadget-nya. Tenang seperti air di kolam ikan, tepat di depan gedung itu. Saya menghampirinya untuk mengonsultasikan perihal judul penelitian yang telah kusiapkan.

“Siang, Bu,” suaraku langsung memalingkan perhatiannya dari gadget yang sedang digenggam.

“Siang,” jawabnya singkat sambil meletakan gadget-nya ke meja. Tanpa bicara, dia seperti telah mempersilahkan saya duduk dihadapannya. Tanpa meminta, aku pun duduk.

“Saya telah memilih satu topik untuk menjadi bahan penelitian skripsi saya, Bu.”

“Apa yang ingin kamu teliti?” tanyanya dengan wajah datar, sambil sesekali melihat gadget-nya lagi.

***

Sebelumnya, saaya ingin sedikit bercerita tentang budaya dari dosen di kampus ini yang seperti sinis, jika membicarakan masalah yang terkait dengan sesuatu berbau kiri atau komunis.

Sebenarnya saya tak mengerti, mengapa dan bagaimana budaya itu bisa lahir di lingkungan akademis. Terlebih lagi di jajaran dosen yang seharusnya mampu membuka diri untuk setiap hal yang memiliki kaitan dengan ilmu pengetahuan. Lingkungan akademis adalah forum bebas dan terbuka untuk membicarakan banyak hal, apalagi yang berkaitan dengan masalah sejarah dan kemanusiaan. Padahal di kampus ini, mata kuliah bernafaskan kiri juga ada. Kajian Budaya budaya, misalnya, atau Analisis Wacana yang sebagian besar tokohnya berafiliasi dengan kiri.

Tetapi, nasi terlanjur lama menjadi bubur. Budaya itu tampaknya telah lekat di kepala dosen-dosen di kampus ini. Entah siapa yang mencuci otak mereka. Saya tidak peduli juga sebenarnya. Toh masih ada sudut-sudut kampus, yang bisa menjadi wadah terhadap siapa saja yang memiliki ketertarikan pada ‘kiri’.

Terkait dosen pembimbing saya, dia adalah seorang dekan yang cukup dipandang oleh jajaran dosen karna gelar dan tesisnya tentang tayangan infotainment –yang menurutnya, bukan hasil kerja jurnalistik! Hebatnya, tesisnya itu menggunakan Teori Relasi Kekuasaan Michel Foucault. Salah satu tokoh Postmodernisme, Mazhab Frankfrut, yang gagasan awalnya justru dari medekonstruksi Marx! Tentu, kekagumanku mesti terlontar padanya.

Tapi di sisi lain, beberapa kawan pernah menyatakan bahwa tesisnya masih terlalu kaku karena terus memburu teori tanpa memperhatikan realitas sosial yang berada di balik praktek infotainment.

Realitas sosial yang dimaksud oleh kawan-kawan saya adalah mereka, yang bekerja di industri infotainment, hanya sekedar mencari nafkah untuk menyambung hidup. Baik, ini mungkin masih bisa diperdebatkan. Tapi satu hal yang pasti dan tak bisa dipungkiri: kebanyakan mereka yang bekerja dalam industri infotainment lulusannya berasal dari kampus saya!

Tesis pembimbing saya itu dinilai oleh kawan-kawan yang bekerja di Infotainment, tak lebih dari sebilah pisau yang dia lemparkan kepada mahasiswanya sendiri. Dia lempar tepat ke jantung mantan mahasiswa-mahasiswinya itu.

***

Lalu dosen pembimbing saya bertanya apa yang ingin diteliti. “Saya ingin meneliti foto berita 65 yang dimuat edisi khusus Tempo, Bu,” jawab saya. Saya sadar jawaban itu sedikit membuat ruangan dosen retak. Meja-meja kerja para dosen masih bertuan, namun tidak ada suara yang muncul. Hanya lirikan-lirikan aneh yang tak banyak saya tangkap maknanya.

Raut dosen pembimbing saya mendadak berubah. Dia menyembunyikan rasa heran di balik matanya. Sekarang tangannya bersila diatas meja, menggeletakkan gadget yang sedari awal digenggamnya.

“Kenapa kamu ingin meneliti itu?” belum sempat saya menjawab, dia meneruskan lagi, “Kamu bawa majalah Tempo edisi khususnya?”

“Saya tidak membawa majalahnya, Bu. Tapi…”

“Bawa dulu majalahnya, lalu temui saya kembali,” potongnya menutup percakapan di meja kerjanya siang itu.

Saya melangkah keluar dengan sedikit rasa lega. Ada kemungkinan bakal judul penelitianku ini akan diterima. Dan mitos tentang kesinisan dosen kampus ini terhadap kiri, mungkin akan sedikit terpatahkan, setidaknya untuk saya sendiri.

Hari berikutnya tiba. Kali ini saya menyambangi ruang dosen dengan membawa majalah Tempo edisi khusus 65, lengkap dengan penataan argumen yang sudah penuh terisi jika ada kata atau nada penolakan dari mulut dosen pembimbing itu.

Saya siap berargumentasi. Namun sayang, hari itu dosen yang ingin saya temui sedang sakit dan tidak bisa datang ke kampus untuk beberapa hari.

Untuk mempercepat proses penggarapan Bab 1, saya pun mengirim pesan singkat kepada dosen pembimbing. Dalam pesan itu, saya mengingatkan lagi bahwa saya ingin meneliti foto berita 65 yang terdapat dalam majalah Tempo.

Dan percakapan yang sempat terputus di meja kerjanya, kini berlanjut dalam balasan pesan singkat. Dia membalas, “Apa urgensi kamu ingin meneliti foto berita 65 tersebut?”

Urgensi? 65? PKI? Tapol? Manusia?

Saya pun membalas pesan tadi dengan cukup panjang dan padat pemaparannya. Dalam balasan itu saya menjelaskan permasalahan stigma para Tapol yang dilabeli pemberontak, pengkhianat, karena dianggap mengudeta dan menculik tujuh Jendral. Namun peristiwa ini selalu sumir sumber data dan fakta. Terlebih lagi, mereka distigma pemberontak tanpa ada satupun yang melalui proses peradilan.

Selain itu, fakta lain yang saya jelaskan pada dosen pembimbing itu adalah permasalahan hak asasi sebagai warga negara utuh yang tidak didapatkan oleh mantan Tapol 65. Mereka terisolasi dalam interaksi maupun partisipasi dalam kehidupan sosial, berbangsa, maupun bernegara. Mereka tidak mendapatkan hak yang utuh dan sama seperti warga negara lainnya. Dan efek tersebut, masih berlangsung sampai sekarang.

Dan terakhir, karena konsentrasi saya adalah Ilmu Jurnalistik, maka saya ingin membedah foto berita 65 yang dipublikasikan majalah Tempo. Selain karna alasan yang saya paparkan tadi, pada majalah Tempo edisi khusus 65 tersebut, para Wartawan Tempo merangkum kesaksian algojo yang membantai PKI pasca kejadian 65.

Hal ini juga menjadi alasan mendasar mengapa saya ingin meneliti foto berita tersebut. Memberitahu mereka, terutama dosen-dosen kampus, bahwa PKI juga menjadi korban kekerasan, pembunuhan, serta pembantaian yang keji dan biadab dari pemerintah dan golongan masyarakat tertentu di masa silam. Setidaknya nilai dan asumsi itu yang ingin saya uji kebenarannya secara ilmiah.

Namun penjelasan dan pemaparan yang panjang dalam pesan singkat, dibalas pula dengan ‘singkat’ tanpa respon positif. Dia membalas, “Bawa majalahnya besok, kita bicarakan di ruangan saya.”

Setelah balasan itu, saya mereka-reka apa yang akan dia katakan besok. Apa argumennya. Maukah dia menyatakan bahwa judul yang saya ajukkan layak untuk diteliti?

Hari itupun tiba, saya kembali menjemput ketenangan ruangan dosen untuk meminta kejelasan dan persetujuan dari dosen pembimbing itu.

Sesampainya di meja kerjanya, dia langsung meminta majalah 65 tersebut. Dibukanya halaman demi halaman dengan seksama. Aku cukup memperhatikan.

“Bagaimana kamu akan membedah foto-foto sejarah ini?”

“Saya akan membedah dengan memaparkan konteks sosial ketika foto itu diproduksi, serta menjelaskan perubahan makna yang terjadi dalam foto tersebut seiring berjalannya waktu dan tersingkapnya fakta-fakta baru terkait 65, Bu.”

“Sampelnya cuma satu?”

“Iya, Bu. Saya telah melihat beberapa skripsi di perpustakaan. Dan ternyata ada beberapa yang meneliti majalah edisi khusus, dengan sampelnya yang cuma satu.”

“Ini majalah tahun berapa?” pertanyaannya mulai kurasa seperti sedang mencari celah untuk mengubur bakal judul penelitian saya.

“2012.”

Dan benar saja, tiba-tiba, “Mengapa tidak kamu cari dulu majalah dengan isu yang lebih baru dan urgensi sifatnya? Lagi pula, foto-foto dalam majalah ini kurang mewakili peristiwa 65. Lebih banyak tokoh algojo dan lokasi pembantaian PKI dulu,” ungkapnya sambil menutup majalah yang saya bawa.

“Maksudnya urgensi, Bu? Apa ini tidak urgensi sifatnya?”

“Cari isu yang lebih urgensi sifatnya untuk bidang jurnalistik,” serunya. “Teman-teman kamu sudah mulai mengerjakan bab satu. Kalau kamu terus berkutat dengan judul, bisa tertunda skripsi kamu. Jadi tolong siapkan judul alternatif untuk skripsi kamu ini!!”

Kalimat terakhirnya terdengar seperti ancaman, walaupun secara tidak langsung. Dia seperti menggugat keinginan saya. Saya telah menyimpulkan bahwa judul yang itu ditolak secara halus. Percakapan itupun kembali berakhir. Tak tuntas, tak puas, dan tak berbalas. Saya hanya mengangguk tanpa kata, lalu keluar, menekuri lantai ruang dosen yang mendadak disesaki kata ‘anti-kiri’.

Dalam hati saya bertanya, apa yang tidak darurat dalam kejadian 65? Apa maksudnya urgensi versinya? Atau penjelasan saya yang tidak mengena?

Saya bisa saja dan memang seharusnya bertanya. Tapi gestur dan rentetan kata-katanya,mengubur keberanianku untuk melakukannya. Ada masa depan yang mesti saya hadapi memang. Dan apakah saya harus membuang arah jalan ke depan, memegang ijazah S1 yang mendadak kini mulai saya rasakan kering itu?

Saya terduduk di kafe kampus dengan secangkir cappucino panas. Saya nyalakan sebatang rokok, lalu memperhatikan riuh-rendah diskusi dan obrolan di sekitar. Saya rasakan suasana kaku ruang dosen yang perlahan mengendur, lalu menghilang.

Dengan sinis, senyum saya hantarkan menuju gedung dosen yang tak ubahnya seperti penjara intelektual. Menara Gading, kata kawan-kawan saya. Dan mitos ‘anti kiri’ untuk jajaran dosen kampus ini, semakin meluber hingga kolam ikan di depannya. Meniadakan satu-satunya ketenangan yang terdapat di pelataran gedung itu.

Aku menceritakan pengalaman ini pada beberapa kawan. Dan respon mereka beragam, mulai dari heran, ngotot, menertawakan, hingga memberi saran untuk mengganti bakal judul penelitian saya, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ya, saya ikuti salah satu anjuran mereka. Mengganti total penelitian skripsi. Meneliti konflik di Ukraina sana. Negara yang jauh dari Dunia Ketiga ini.

Maka pada akhirnya, saya mesti setuju dengan pernyataan salah satu kawanku: jika ada kejahatan terparah di dunia ini, kejahatan itu adalah memenjarakan pemikiran. Percayalah!


‘Iam’ Kamrran
Alumni Ilmu Jurnalistik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s