Esai / Sosial

Maaf Sayang, Kualitas Cintaku Akan Berkurang

Ilustrasi: Istimewa

“Cinta itu anugrah maka berbahagialah.
Sebab kita sengsara bila tak punya cinta.
Rintangan pasti datang menghadang,
Cobaan pasti datang menerj
ang”
(Sumbang, 1980-an)

Teman-temanku di kampus rata-rata mempunyai pasangan dengan yang berlainan jenis kelamin, namun ada juga yang suka sesama jenis dalam menjalin hubungan percintaan. Banyak yang berpendapat dampak punya “cinta” di kampus, membangkitkan kita semangat pergi ke kampus, walaupun tetap saja IPKnya jeblog. Jadi kalau meminjam istilah Pengantar Statistik Sosial (PSS), cinta ≠ IPK.

Lain halnya dengan teman saya, sebut saja Budi. Rumus “Cinta ≠ IPK” tidak berlaku bagi dia. Asumsi saya, dia adalah seorang profesional dalam percintaan, di mana dia bisa mengatur kapan untuk cinta dan kapan untuk IPK. Yah, walaupun kisah percintanya pernah berlintas provinsi, tapi IPK tetap di atas rata-rata.

Lain lagi dengan tema saya yang mendapat julukan “Cinta Lintas Generasi”, kita akronimkan menjadi Clinsi. Aura cintanya menjadi atsmofir sejumlah perempuan paruh baya. Mungkin fenomena cinta ini akibat efek dari keseringan membaca karya-karya Erick Fromm.

Cinta lintas generasi menjadi problem bagi Clinsi, ketika mahasiswi di Kampus Tercinta didominasi oleh perempuan yang baru lulus sekolah. Hal ini membuat dia malas-malasan pergi ke kampus. Tapi, Tuhan tidak akan memberi sebuah cobaan kepada manusia melebihi kemampuan manusia tersebut.

Dia mulai bersemangat lagi ketika bunga yang hampir layu datang menjadi dosen. Sebagai teman, saya hanya bisa menyuport, “Hayo teruslah berjuang, siram bunga itu agar terus tegar menghadapi kepalsuan cinta.”

Meskipun demikian, cinta tak lepas dari politik. Kita setujui saja dengan istilah “Politik Cinta”. Secara sadar atau tidak sadar, sengaja ataupun tidak sengaja, cinta mempunyai hubungan erat dengan politik.

Bisa kita banyangkan ketika seorang teman berpacaran dengan mbak-mbak warteg dengan tujuan mendapatkan makan siang dan makan malam gratis. Dan bisa juga, seorang teman yang sampai saat ini masih galau akibat diputus oleh perempuan yang dicintainya setelah selesai mengerjakan tugas seminar se perempuan. Atau, ada teman saya yang berpacaran dengan laki-laki yang mempunyai motor atau mobil. Tentu, agar bisa diantar pulang-pergi ke kampus gratis, dan, setelah lulus putus. Banyak sekali motif dalam menjalin hubungan yang lebih dari sebatas pertemanan.

Dilihat dari beberapa gambaran di atas, cinta mempunyai sebuah unsur proses perjuangan dalam mendapatkannya untuk menambah kualitas cinta kita. Tidak hanya PDI (Partai Demokrasi Indonesia) saja yang butuh perjuangan tapi cinta –dengan istilah apapun itu- tetap membutuhkan sebuah perjuangan. Dan, perjuangan cinta selalu di luar nalar sehat.

Kalau hanya makan di Solaria tiap minggu, jadi tukang ojek (antar pulang-pergi kampus) atau mencari buku-buku bekas di Blok M layaknya Rangga dan Cinta (film Ada Apa dengan Cinta) itu sudah biasa. Tapi kalau sudah mau merusak hubungan pertemanan dengan cara menjauhkan dari teman-teman lamanya serta menjauh dari kegiatan yang biasa dilakukan, itu adalah penundukan bukan cinta.

Meminjam istilah seorang Romo yang kuliah hampir 15 tahun di IISIP, “Cinta itu bukan sebuah penundukan, tapi cinta adalah sebuah proses pembebasan.”

Bicara lagi masalah cinta, maka tak lepas dari perjuangan, dan perjuangan membutuhkan tenaga yang super-extra ketika BBM naik. Dengan BBM naik, secara otomatis kuantitas-kualitas percintaan kita akan berkurang.

Sebut saja, ketika kita mempunyai ritual makan malam setiap minggu di Solaria, tentunya akan berubah baik secara hidangan dan banyaknya makanan di meja. Atau bagi pasangan cum tukang ojek sang kekasih, dia akan mendorong motor karena tengki bensinnya hanya cukup sampai mengatarkan kekasih pulang saja.

Tak hanya itu, imbas BBM naik akan dirasakan juga oleh jomlo mania karena perjuangan untuk mendapatkan cinta akan lebih super-hyper ektra karena kuantitas untuk nyepik akan berkurang yang berdampak besar terhadap kualitas keberhasilan mendapatkan cinta.

Maka dari pada itu, ketika kenaikan BBM sebesar Rp 2000 pada (17/11) Senin malam kemarin, yang mana harga premium dari Rp 6500 menjadi Rp 8500 banyak menuai protes (17-18/11) dari kalangan teman-teman mahasiswa dengan cara turun kejalan khususnya Kampus Tercinta baik mahasiswa/i yang jomlo maupun yang tidak.

Problem kenaikan BBM tidak hanya berpengaruh pada kualitas cinta terhadap kekasih tapi juga problem bayar kos-kosan, bayar listrik naik akan menghadang kita bulan depan dan harga paket makanan 8000 pun ikut naik dikala kesemuanya itu tidak diberangi dengan kenaikan upah kerja orang tua kita yang lebih manusiawi.

Dan tak dapat saya banyangkan ketika lulus dari kampus Tercinta lalu mencari kerja dalam persaingan sarjana muda pencari kerja sangat ketat, saya dipaksa untuk mengamini, tunduk serta menerima dengan kisaran upah kerja sebesar Rp 2,7 jt sampai Rp 3,2 jt, sementara sewa kontrakan naik dan harga sebungkus nasi dengan lauk tahu-tempe naik, serta desakan dari kekasih kita untuk segera menikahinya.

Jangan lupa calon mertua, yang selalu minta resepsi yang mewah.


Aip Saifullah
Mahasiswa Ilmu Politik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s