Esai

Peran Simbol dalam Sebungkus Rokok

Pram dan KretekSuasana malam Minggu pada bulan Ramadhan, bintang-bintang di langit bertemu dengan suasana yang macet di depan pasar Tebet. Pedagang asongan berjualan dengan menggunakan gerobak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Kemudian saya berhenti di sebuah gerobak warung tepatnya di depan ramayana pasar tebet, untuk membeli rokok. Gerobak warung tersebut milik seorang yang bernama Usman, yang sehari-harinya berjualan di tempat ini. Malam itu saya tidak langsung pulang, saya tertarik untuk main catur sekaligus berbincang santai dengan Usman.

Usman menceritakan seputar kehidupannya selama berjualan di depan pasar, beliau berjualan sejak tahun 1982 sekitar 32 tahun silam. Usman mempunyai seorang istri dan mempunyai dua orang anak, anak pertama laki-laki dan kedua perempuan. Anak pertama Usman sudah berumah tangga bahkan sudah mempunyai seorang anak, kemudian anak perempuannya masih kuliah di daerah kuningan.

“Tidak apa-apa saya bekerja hingga larut malam, bahkan bisa 24 jam asalkan anak perempuan saya bisa kuliah sampai lulus S1, karena pendidikan itu sangat penting, walaupun saya tidak sekolah dan tidak jadi apa-apa jangan sampai anak saya juga mengikuti saya kelak,” ujar Usman.

Waktu terus berjalan. Sambil main catur dan ditemani secangkir kopi, saya mencoba untuk menjadi teman baik beliau di malam Minggu itu. Saya tertarik untuk menanyakan pendapatannya selama Ramadhan. Terutama mengenai hasil penjualan rokok yang mendominasi dagangannya.

Pada bulan Ramadhan ini, secara khusus pendapatan Usman naik dibandingkan hari-hari biasa. Akan tetapi Pak Usman merasa terganggu dengan adanya gambar-gambar seram yang terdapat dibungkus rokok. Konsumen seringkali mengeluhkan rokok yang dibeli di warungnya, sebagian besar komplain dengan cara menukar bahkan sampai ada yang tidak jadi membeli, sebab produk rokok yang dia beli terdampat peringatan gambar serem yg sangat menakutkan. Pembeli beralasan rokok yang ada gambarnya itu tidak enak dan pahit berbeda dengan rokok yang tidak ada peringatan gambar tengkorak, dengan banyaknya konsumen yang komplen mengenai hal tersebut. Usman kecewa dan tidak setuju dengan kebijakan pemerintah mengenai peringatan gambar seram di bungkus rokok.

banyak pro kontra terhadap rokok. Menurut saya seharusnya mengkampanyekan etika merokoknya di bagian bungkus rokok sehingga tidak mengganggu yang tidak merokok (perokok pasif) lalu memberikan solusi dan bukan mempromosikan perokok supaya tidak membeli rokok dengan alasan kesehatan yang menjadi pembenaran.

Hal yang sama saya temukan juga dengan pedagang asongan lainnya. Seperti diungkapkan oleh Rian, ia sangat tidak setuju dengan kebijakan pemerintah tentang peringatan tanda gambar di bagian bungkus rokok. Menurutnya, kalau memang merokok dilarang, mengapa rokok diproduksi di Indonesia?

“Kalau yang namanya pecandu rokok tetap saja dia akan membeli rokok, walaupun terdapat gambar di bagian bungkus rokok, semua produk rokok sudah ada tanda gambar. Yang belum tinggal sampoeran mild,” ujar pak Rian.

Gambar seram di bungkus rokok menyebabkan omset Rian menurun, “Biasanya konsumen membeli rokok satu bungkus atau dua bungkus, ini malah membeli ketengan, itu akibat gambar peringatan serem di bungkus rokok,” sambungnya.

Penerapan aturan kewajiban industri rokok ialah aset yang turut mambangun bangsa Indonesia, baik di bidang ekonomi, pendidikan, olahraga maupun lingkungan. Tembakau menjadi kekuatan sektor pertanian, yang cukup menyejahterakan petani melebihi komoditas tanaman lainnya.

Apakah asing peduli dengan semua ini dengan memasang gambar peringatan bahaya merokok di kemasan (packaging) rokok? bukan malah melindungi, melainkan bisa meneror konsumen secaran psikologis. Industri kretek nasional juga terancam.  Peneliti dari Pusat Studi Kretek Indonesia (Puskindo), Universitas Muria Kudus (UMK), Zamhuri mengungkapkan, “Aturan ini patut dipertanyakan, sangat diskriminatif karena hanya diterapkan pada industri rokok bukan pada hasil produksi lain, misalnya banyak produk makanan dan minuman yang memiliki kandungan berisiko bagi kesehatan yang tidak mencantumkan peringatan kesehatan serinci itu.”[1]

Jika mau adil, pemeritah seharusnya juga menerapkan kebijakan yang serupa, terhadap produk makanan dan minuman yang memiliki kandungan beresiko bagi kesehatan. Namun mereka tidak mencantumkan peringatan kesehatan serinci itu. Yang menjadi korban regulasi ialah pengusaha rokok, pedagang-pedagang kecil serta para petani tembakau, karena dikhawatirkan tanda peringatan dalam bungkus rokok ini dapat mematikan mata pencaharian mereka. Padahal manfaat rokok bagi negara tidak sedikit, dimana setiap tahun produk dari rokok menyumbangkan cukai tembakau sebesar enam puluh trilyun rupiah.[2]

Tetapi kenyataannya, konsumen malah dipaksa untuk tidak mengonsumsi rokok, termasuk hak pelaku usaha ekonomi kerakyatan dalam memperoleh kebebasan berusaha. Dari sisi industri kebijakan pemerintah ini bisa menimbulkan nilai jual kretek yang sangat rendah buat produksi di Indonesia, dan bisa jadi produk kretek yang menjadi produk favorit masyarakat bakal tergusur oleh produk lain yang telah memenangi persaingan pada tingkat regulasi. Hal ini menjadi bukti, pemberlakukan peraturan pemerintah mengenai tanda “gambar seram” pada bungkus rokok, merupakan sinyal untuk mematikan kretek nasional dan kemenangan produk hasil tembakau nonkeretek.

Catatan kaki:
[1] Sumber data dapat dilihat melalui http://www.kemenperin.go.id/artikel/9530/Kemenperin-Klaim-Tak-Ganggu-Produksi, diakses 30 Agustus 2014, Pukul 22.46 Wib.

[2] Sumber data dapat dilihat melalui http://TRIBUNnews.com/artikel/Gambar-seram-bungkus-rokok-dinilai-diskriminatif, diakses 30 Agustus 2014, Pukul 22.57 Wib.


Muh. Jumry
Mahasiswa Ilmu Politik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s