Opini

Menciptakan Media

Sumber ilustrasi: Mashable.com

Sumber ilustrasi: Mashable.com

Don’t hate the media, just be the media,” begitulah salah seorang kawan saya berucap ketika kami sedang membicarakan media massa yang sedang stagnan, yang secara tidak langsung mempengaruhi peradaban kita yang juga stagnan.

Jurnalisme terlalu heboh dengan isu-isu tidak penting yang juga terus mengalihkan perhatian. Lewat serba cepat, menghilang tak kalah cepat. Isu yang penting tentang kemanusiaan, justru semakin tenggelam dalam tumpukan berita tak penting. Kita menjadi ikut larut dalam arus informasi yang terus membanjir.

Media massa setelah reformasi tidak lagi terbungkam. Semua bebas berbicara. Namun ketika kebabasan menjadi tak bertanggung jawab dan media disentralisasi oleh segelintir orang, tentu independensi patut dipertanyakan.

Masyarakat yang memiliki sikap kritis, tidak begitu saja percaya dengan apa yang disajikan oleh media massa. Namun, ketidakpercayaan kepada media massa, bukan alasan untuk membenci media yang notabennya memberi informasi. Media hanyalah alat menyampaikan informasi. Jika ada yang harus disalahkan, tentu bukan medianya, namun kepentingan di balik media tersebut.

Saya adalah orang yang percaya bahwa setiap media massa memiliki ideoliginya masing-masing. Mereka tak pernah sepenuhnya berpihak pada rakyat. Namun yang amat saya sayangkan adalah media dimiliki oleh orang-orang yang belum mengerti disiplin jurnalisme. Terutama verifikasi.

Media massa saat ini tak hanya menjadi ladang industri, namun juga menjadi kendaraan politik untuk sang empunya menuju kekuasaan. Sangat jelas, tak ada lagi media yang bebas dari pengaruh politik. Celakanya, media partisan seperti itu tidak menyediakan pihak yang diserang untuk memberikan pernyataan.

Salah satu cara untuk membongkar tatanan media massa yang stagnan adalah dengan berusaha untuk menciptakan media yang disiplin dalam menunaikan tugasnya. Jurnalisme memang menuntut disiplin.

Ketika media massa mulai mandeg, berisi berbagai kepentingan ekonomi-politik, saatnya bagi media alternatif bersikap independen dalam memberikan informasi. Independen berarti bukan berarti tidak memihak. Ia memihak pada kebenaran, kebenaran yang berlapis dan terus-menerus diungkap. Bukan kebenaran mutlak.

Mahasiswa adalah salah satu kaum yang dapat menciptakan media yang independen. Mereka –saya termasuk dalam gerbongnya- memiliki kesempatan untuk bersikap independen tanpa kepentingan, sebelum akhirnya menjadi robot industri. Pun ada kepentingan, itu hanyalah pencarian eksistensi kehidupan yang alami.


Bayu Adji P
Mahasiswa Ilmu Jurnalistik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s