Esai

Pos Kota yang Hina namun Mulia

Sumber Ilustrasi:  Koleksi Djadoel

Sumber Ilustrasi: Koleksi Djadoel

Sebagai seorang mahasiswa, pastilah ia punya banyak ide, pemikiran dan rencana yang ideal untuk jenjang akademis ataupun karirnya kelak. Biasanya, semua konsep ideai itu terbangun atas pengetahuan dan pengalaman yang pernah dicicip dan rasakan. Walaupun masih banyak juga yang membangun keidealan tadi berkat keunggulan opini atau tren terhadap sesuatu.

Saya adalah mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jakarta. Institut tempat saya menimba ilmu ini sangat identik dengan kampus jurnalistik. Walaupun ada beberapa jurusan lain di kampus ini, seperti periklanan, humas, bahkan politik. Tetapi entah mengapa kampus ini lebih lekat dengan kata ‘Jurnalistik’.

Saya hanya tahu, awalnya kampus ini memang berdiri atas inisiatif beberapa Wartawan era 50an untuk melahirkan mahasiswa dengan kemampuan jurnalistik yang mumpuni. Ada nama Jakob Oetama (pemilik Kompas) di antara beberapa Wartawan yang memiliki ide untuk membangun kampus ini. Mungkin karna riwayat sejarah itu, IISIP Jakarta lebih akrab dengan sebutan ‘Kampus Jurnalistik’.

Saat menginjakan kaki di kampus, barulah saya tahu mengapa IISIP sangat lekat dengan istilah ‘Kampus Jurnalistik’. Banyak jebolan kampus ini yang memang telah menjadi jurnalis di berbagai media mainstream atau non-mainstream (alternatif). Walaupun pada saat kuliah, mereka tidak mengambil jalur jurnalistik untuk jenjang akademisnya. Dan Institut ini juga memang didominasi oleh mahasiswa yang berkonsentrasi di bidang kajian jurnalistik.

Di sini, saya digodok untuk menjadi jurnalis yang ideal. Menulis dengan bahasa indonesia jurnalistik, memahami peran filosofis yang harus diemban oleh para jurnalis, mengerti dan peka terhadap efek-efek media massa, bahkan harus mampu membedakan mana-mana saja media yang memenuhi nilai dan karakter ideal jurnalistik. Semua diperlakukan sama dengan tujuan ketika lulus nanti, semua bisa bekerja di media yang dianggap ideal oleh institusi ini.

Dari pengetahuan tentang media yang ideal inilah, sebagian besar mahasiswa jurnalistik menginginkan diri mereka untuk bisa praktek kerja lapangan atau kelak bekerja di media yang dianggap ideal, seperti Tempo, Kompas, Gatra, Media Indonesia (media cetak) dan di Metro Tv, Tv One (media televisi). Media ini dianggap ideal oleh kampus karena mulai dari cara penulisan, konten, sampai dengan penyajian, hampir suci dari cacat jika direfleksikan dengan teori-teori yang diajarkan para dosen.

Tetapi semua media yang dianggap ideal oleh para dosen kampus ini sebenarnya telah memiliki kelemahan sedari lahir. Semua media itu adalah media nasional yang tidak sepenuhnya bisa memuat dan memberitakan hal atau kejadian yang bersifat lokal. Pendeknya, media-media yang dianggap ideal itu belum tentu bisa merangkul masyarakat yang majemuk dan beragam latar belakang hidupnya.

Sekali waktu, saya pernah praktek kerja lapangan di media Gatra Online. Media yang dianggap ideal oleh IISIP. Memang cukup banyak ilmu yang didapat di sana, mulai dari penyajian konten sampai pertimbangan dan peraturan apa yang menjadi pakem mereka sebelum menerbitkan suatu berita. Dalam pakem itu memang selalu tersisip muatan ideologis dan ekonomis yang menentukan angle berita. Tetapi karena dosen mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan Online yang ada dikampus adalah salah satu dosen yang saya sinisi, saya urung menggunakan hasil pengalaman di Gatra untuk mendapat nilai akademis di kampus.

Saya pun mencari alternatif media lain untuk memenuhi kewajiban nilai praktek kerja lapangan yang ditetapkan kampus. Saya diburu waktu saat itu. Di titik itulah, saya menyambangi Harian Pos Kota untuk mencoba praktek kerja lapangan disana. Pos Kota adalah media yang selalu menjadi bulan-bulanan oleh dosen kampus dengan teori-teori ideal jurnalistiknya.

Singkatnya, Pos Kota adalah media yang telah dilabeli ‘Koran Kuning’ oleh staf pengajar IISIP.

Label itu bisa dimaknai sebagai media yang sering melanggar kode etik, bahkan tidak terakui kredibilitasnya. Sama sekali tidak keren di kalangan mahasiswa IISIP.

Tetapi saya memang tidak peduli anggapan dosen maupun mahasiswa itu. Saya hanya ingin menjalani praktek kerja lapangan dengan lancar tanpa hambatan. Dan mulailah saya menjadi mahasiswa magang di sana.

Hari pertama saya mengantar CV ke sana, tiba-tiba langsung diterima dan diutus untuk terjun meliput peristiwa pembunuhan di Jakarta Timur. Redaktur Pelaksana Pos Kota seolah telah mempercayai jam terbang saya di lapangan walaupun masih minim. Saya pun manut lalu meliput.

Hari-hari berikutnya saya lewati dengan ragam liputan. Dan seperti identitas Pos Kota, bahan liputan saya selalu didominasi oleh topik kriminalitas. Pembunuhan, perampokan, pengeroyokan, bahkan pencabulan. Saya bergumul dengan liputan-liputan tadi kurang lebih hampir dua bulan. Dan saat itulah saya mengerti, sasaran pembaca Pos Kota memang bukanlah akademisi, politisi, atau priyayi, atau bahkan pebisnis layaknya media-media nasional yang dianggap ideal oleh kampus. Target Pos Kota adalah mereka yang hidup di jalan (Man on The Street). Para pedagang, pengasong, buruh parkir, buruh pabrik, tukang tambal ban, atau siapa pun mereka yang hidup dan menggantungkan hidupnya di jalanan.

Bukankah mereka juga membutuhkan informasi? Bukankah media harus menjadi peta bagi semua orang, sehingga darinyalah masyarakat bisa bertindak dengan benar dan tak sesat arah? Jika media harus ideal seperti yang dijelaskan jajaran dosen kampus, maka orang-orang yang hidup di jalan mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan informasi yang memang benar-benar mereka butuhkan. Dan menurut saya, Pos Kota menutupi cacat teori-teori ideal yang ada di kampus.

Dan saya teringat satu nilai ideal yang harus rekat pada media massa, yaitu mendidik dan mencerdaskan publik. Sebagian besar mahasiswa di kampus mengartikan edukasi ini sebagai konten-konten yang harus ada di media massa dan memiliki nilai pengetahuan bagi masyarakat. Tak ada yang salah memang, tapi apakah Pos Kota tidak melakukan ini dengan berita-beritanya yang selalu dianggap melanggar kode etik jurnalistik? Baiknya anda pikir dan kaji dulu lebih dalam.

Sebagai media massa dengan segmentasi pembaca menengah kebawah, Pos Kota melakukan hal yang lebih radikal dibanding dengan hanya mendidik melalui konten, yaitu memupuk minat baca masyarakat kelas bawah yang selalu di stigma bodoh oleh akademisi maupun politisi dengan kata dan kalimat yang retoris.

Mereka membaca, mereka tahu. Setidaknya mereka tahu bagaimana cara bertahan hidup di jalanan yang selalu di bekap kekerasan dan kriminalitas. Dan Pos Kota telah melakukan tugas mulia dengan mendidik mereka untuk untuk tahu dengan membaca. Ini bukan pembelaan, buktikan sendiri dengan fakta yang berserak di jalanan.


‘Iam’ Kamrran
Mahasiswa Jurnalistik IISIP Jakarta

Advertisements

3 thoughts on “Pos Kota yang Hina namun Mulia

  1. Pos Kota, kalau kata yang punya yaitu Harmoko, memang di tujukan buat kalangan bawah. Dengan kata lain, tema & isi memang menjurus ke kalangan bawah, jadi pada prinsip dasarnya beda dengan media lain.
    Baru sadar ternyata ini, kampus tercinta, hahaha
    Salam buat bang boim ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s