Esai / Politik

Riuh-rendah Ini Menyiksa

Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

…puluhan bahkan ribuan kilometer atau mungkin saja dekat denganmu…

Makan sahur masih jalan setengah. Tapi asisten rumah tangga dan penjaga kantor sudah berulah. “Kenapa orang-orang begitu meributkan soal copras-capres di jejaring sosial, sih, ‘bang?! Sampai nge-brodkes segala!”

Segera saya melirik teman sekantor yang langsung meletakkan sendoknya. Salah satu asisten rumah tangga di kantor yang membawakan beberapa gelas air juga langsung duduk. Bergabung. Menatap teman saya yang ujug-ujug (Bahasa Betawi untuk ‘tiba-tiba’ – pen.) mendapat tuntutan untuk segera menjawab pertanyaan mereka. Bersama-sama. Juga saya.

Butuh beberapa menit bagi teman sekantor saya itu untuk membuka mulutnya. Saya tahu, meski ia bukan orang yang menggebu-gebu untuk urusan politik praktis, ia hanya sosok yang enggan terlibat banyak dalam seliweran percakapan atas hal ini. Sambil mengerjapkan mata beberapa kali, saya melihat dirinya berusaha membumikan jawaban dari pertanyaan yang membuat sahur kami memiliki jeda.

“Mungkin karena kita masih mewarisi mental inlander, bangsa jajahan.”

Saya tersenyum saat melihat tatapan dari yang hadir justru kebingungan dan malah bernafsu mendapatkan jawaban. Teman sekantor saya itu tahu betul, sahurnya akan tertahan. Sambil kembali menyendok makanan yang kami beli dari warung tegal dekat kantor, melanjutkan sahurnya – sahur kami, ia coba memaparkan.

“Jadi begini, kita kan sudah cukup lama nih nggak boleh menikmati demokrasi. Bisa ngomong seenaknya. Bebas berlaku semaunya. Asal tidak mengganggu hak orang lain. Tapi karena sekian lama demokrasi kita tertahan, jebol deh itu semua.”

Hadirin masih juga kebingungan atas arah jawaban teman saya itu. Saya memencet-mencet tombol televisi lalu berhenti di sebuah acara yang khas sahur.

“Sekian lama kita tertahan, tidak bisa dipungkiri, kita justru merekam penyanderaan atas demokrasi. Dan saat sudah mulai bebas dan terbuka, tanpa kita sadar, kita justru mempraktekkan kekerasan di masa lalu,” salah satu hadirin membuka mulutnya.

“Bang, ribet banget, sih, penjelasannya! Muter-muter! Langsung aja..jangan pepusi-an gitu!

Hadirin mengangguk setuju. Saya ngakak. Juga teman sekantor saya. Harus diakui, kami justru salut, meski secara hirarki di kantor mereka berada di titik bawah – yang melakukan protes itu bisa mengidentifikasi berbelitnya keterangan teman saya ini. Dan justru karena itu, mereka sebenarnya junjungan kami.

Gini..gini, deh… Kita, kan, pernah mengalami masa dimana nggak boleh berdemokrasi. Berdemokrasi, sih, tapi dengan gaya Orde Baru. Lalu sekarang, saat semuanya sudah bisa menikmati demokrasi dengan gaya seperti ini, diam-diam kita masih mewarisi salah satu tabiat Orde Baru. Yaitu keinginan hanya untuk menjadi pemenang saja.”

Saya kembali memencet-mencet tombol televisi.

“Tapi, ‘bang, setiap pertandingan kan pasti inginnya menang! Apalagi kayak politik-politik-an gini… Masa lebih memilih kalah?! Kecuali abang, sih, yang justru selalu berharap Barcelona kalah..padahal itu timnya abang!”

Kami ngakak. Ada sedikit senyum pucat di bibir teman saya karena tim sepakbolanya tidak lagi bersinar seperti era Pep Guardiola.

Ah, elu..bawa-bawa Barca, huh!” Kali ini suara kami berhasil mengalahkan tawa di televisi. Teman sekantor saya melanjutkan.

“Di sepakbola ada kalimat bijak: ‘Jika kalian tidak mendukung kami di saat kami kalah, maka jangan mendukung kami di saat kami menang’. Itu juga berlaku sebenarnya untuk menjelaskan pertanyaan awal tadi”

Hadirin kembali bingung. Saya kembali tersenyum. Juga teman sekantor saya yang merasa telah menemukan analogi membumi yang tepat.

“Sekian lama kita dijajah oleh Orde Baru lalu berhasil keluar dan masuk ke masa demokrasi seperti sekarang ini. Harus diakui bahwa kita sebenarnya mewarisi mental dengan belajar dari Orde Baru yaitu hanya menerima panggung kemenangan saja. Itu wajar, karena sekian lama kita selalu menjadi yang terkalahkan saat Orde Baru. Lalu saat ini, mental di alam bawah sadar kita yang telah terdidik oleh Orde Baru itu, keluar. Tidak pernah bisa menerima kekalahan. Hasilnya, kita ngotot untuk menang. Segala cara dilakukan kepada lawan. Tapi tujuannya kini bukan lagi untuk kemenangan, hanya untuk menyoraki pihak yang kalah. Merasakan setitik kemenangan semu dari ancaman yang bisa saja justru lebih lama lagi. Padahal kita sama-sama masyarakat.”

Ada setitik cerah di wajah hadirin. Saya kembali tersenyum. Kembali memencet tombol televisi.

“Itu kali yaa ‘bang maksudnya kenapa banyak pemain bola, kalau bertanding dengan mantan klubnya, nggak mau melakukan selebrasi?!”

Ada rasa bangga yang tulus di wajah teman saya mendengarnya. Tidak terkecuali saya.

“Iya, sepakbola mengajarkan bahwa selebrasi boleh saja. Tapi saat kamu berhadapan dengan mantan klubmu, melakukan selebrasi sama saja menyakiti sejarahmu. Alfred Riedl juga pernah menanamkan etos pada timnas Indonesia agar tidak melakukan selebrasi berlebihan jika para pemain berhasil membuat gol, bukan? Alasannya, itu sama saja menyakiti hati dari pendukung tim lawan. Rasanya ini, sih, yang masih belum dimiliki oleh banyak orang yang ngotot dengan copras-capresnya. Satu sisi, bisa dipahami karena sekian lama kita dijajah, merasakan sebagai orang yang terkalahkan – lalu saat ada ruang untuk melakukan selebrasi kemenangan maka gegap gempita. Tapi yang jarang disadari, tujuannya bukan lagi hanya untuk selebrasi. Tapi justru menunjukkan kekuasaan kepada orang lain melalui sorak-sorai kemenangan. Bahkan sampai masuk ke ruang-ruang personal dengan bentuk brodkes-brodkes-nya itu.”

Kami mengangguk-angguk.

“Terus alasannya abang selalu berharap Barcelona kalah, apaan, bang?!”

Kami ngakak.

“Maksudnya, sih, selain bisa buat ngeles kalau misalnya kalah, supaya bisa tetap woles kalau Barca-nya menang. Nggak seruntulan kayak kalian kalau lagi nonton bola!”

Kembali kami ngakak.

Mendadak ingatan saya juga melintas. Teringat dengan peristiwa seorang teman. Satu hari ia mendapat tugas untuk meliput kedatangan salah satu legenda sepakbola. Acaranya sendiri di salah satu hotel kawasan mewah di Jakarta Selatan. Malam hari, di kamar kontrakan saya, ia datang dengan perasaan dan wajah yang rusuh.

Saat teman saya itu tiba di lokasi, ia mendapatkan perlakuan yang baginya tidak menyenangkan. Memang, untuk ukuran seorang jurnalis, teman saya itu tidak berlebihan dalam berpakaian. Mode pakaiannya hanya seperti kamu, aku, kita. Tapi saat hendak masuk ke dalam, petugas keamanan mesti melakukan pemeriksaan yang baginya sangat berlebihan. Padahal, ia sudah menunjukkan surat penugasan dan kartu identitasnya, tapi ia masih tetap mendapat hujan pertanyaan. Bertambah kesal saat ia melihat serombongan keluarga yang baru saja datang, melintas lalu masuk begitu saja. Tanpa merasakan pemeriksaan seketat dirinya.

“Keluarga yang melintas itu, sejenak saja kita melihat, akan tahu di kelas mana mereka berada. Bukan di kelas seperti kita. Apakah mentang-mentang mereka yang berada di kelas atas, mendapatkan hak istimewa untuk bisa melenggang begitu saja tanpa melalui pemeriksaan seketat gua?! Lalu melalui kekuasaannya, satu-satunya pakaian yang dimiliki petugas keamanan itu, mesti menunjukkan kekuasaannya kepada gua – orang yang sebenarnya satu kelas dengan dirinya, orang kebanyakan?! Dasar mental bangsa terjajah!” Saat itu saya hanya terdiam menatap semburan kata-katanya. Sambil berdoa agar ayah saya yang pernah menjadi petugas keamanan sebuah kantor pemerintahan, tidak memiliki rekam jejak buruk seperti kata-kata teman saya itu.

Tak lama, pengeras suara dari Mesjid dekat kantor, mendengungkan pengumuman waktu Imsak. Dan saya sudah begitu lebay membiarkan pikiran berkelana padahal belum merokok.


Zoel
Bukan siapa-siapa di IISIP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s