Esai / Politik

Debat Capres 2014, Piye Kabare Petani?

05

Ilustrasi perang Baratayuda (Sumber: Istimewa)

Harus diakui pilpres 2014 sangat berbeda dengan pilpres sebelum-sebelumnya. Yang berpihak, bukan hanya media dan para pendukung kandidat, unsur gerakan sosial pun ikut terlibat. Gerakan sosial itu adalah gerakan tani, gerakan buruh, gerakan masayarkat adat, gerakan perempuan, gerakan miskin kota dan lain-lain. Banyak orang berpendapat pilpres kali ini seperti perang “Barata Yuda”: sebuah legenda tentang perang saudara antara Pandawa dan Kurawa, pertempuran antara yang baik dan yang buruk. Karena itu, dianggapnya pilpres kali ini adalah penentuan: sebuah kontinuitas sejarah atau diskontinuitas sejarah bangsa.

Debat pilpres 2014 terakhir, Sabtu, 5 Juli 2014, mengangkat tema tentang Pangan, Energi dan Lingkungan. Karena salah satu topik pokok perdebatan kali ini masalah pangan, maka jutaan petani sangat antusias pada acara debat yang ditayangkan TVRI dan TV swasta itu. Ditambah lagi banyaknya unsur gerakan tani yang selama ini menuntut reforma agraria ikut terlibat dan menyatakan diri keberpihakannya terhadap salah satu capres.

Di tengah sebagaian besar rakyat Indonesia merayakan pesta demokrasi dan di tengah para kandidat president mengumbar janji kepada para petani, debat itu tidak disaksikan petani Rembang yang sedang menduduki tanah garapannya yang akan dikonversi menjadi tambang semen oleh PT Semen Indonesia. Debat itu juga tidak disaksikan petani Karawang yang sudah terusir dari garapannya serta rumahnya karena pihak peradilan memenangkan PT Agung Podomoro Land Group, salah satu perusahaan real estat terkenal di Indonesia. Dan tidak juga untuk para petani yang sedang berjuang mempertahankan garapannya tanpa ada yang memberitakannya baik di media online, cetak, televisi maupun sosial media.

Pada perdebatan kali ini khususnya sektor pertanian, kedua kubu menitik beratkan pada produktifitas pangan agar tidak ada lagi import pangan di negeri agraris ini. Prabowo akan membuka lahan 2 juta hektar guna produktifitas pangan tercukupi dengan infrastruktur yang sebanding juga. Sedangkan Jokowi juga sama, pembukanaan lahan produktif, perlu adanya pupuk yang baik agar terciptanya produktifitas yang baik, dan juga infrakstruktur seperti irigasi, bendungan dan lain-lain, serta, pasar petani pun harus disediakan.

Kedua capres hampir sama program yang mereka janjikan khususnya pada sektor pertanian, karena mereka sepakat akan istilah “petani adalah soko guru”. Walaupun demikian, janji pembukaan lahan produktif bagi sektor pertanian tidak jelas untuk siapa karena tidak terucap dari kedua capres: apakah tanah untuk penggarap, untuk petani yang mempunyai lahan sedikit? Yang jelas, tanah untuk rakyat merupakan syarat utama dalam implementasi reforma agraria yang terpatri pada UUPA nomor 5 tahun 1960 (Undang-Udang Pokok Agraria).

Tak menutup kemungkinan, dibukanya lahan produktif yang mereka janjikan bukan untuk para petani penggarap, dan tak membentuk comune-comune dalam produktifitas pertanian untuk memenuhi kebutuhan keluarga tani, juga kebutuhan nasional. Lahan produktif tersebut akan diperuntukan bagi perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di sektor pertanian dengan orientasi pasar tanpa mempedulikan lagi kedaulatan pangan.

Dengan menerapkan konsep kepemilikan tanah bersama dan membentuk comune-comune, itu adalah spirit bangsa ini yang penuh akan kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong. Dengan begitu fungsi tanah bukan lagi sebagai komoditi yang diperjual-belikan, tetapi tanah dijadikan sebagaimana mestinya, yaitu tanah sebagai fungsi sosial, budaya, ekonomi dan religius. Dan tak ada lagi petani Karawang, petani Rembang dan petani-petani yang ada di seluruh Indonesia terusir dari lahan garapannya, tak ada lagi petani dipukul popor senjata, tak ada lagi laras sepatu militer di muka petani, tak ada lagi pemenjaraan petani, dan juga tak ada lagi anak petani yang menjadi yatim akibat orang tuanya tertembak hanya untuk mempertahankan garapannya. A Luta Continua!


Aip Saifullah
Mahasiswa Ilmu Politik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s