Opini / Sosial

Saya Mencontek karena Saya Bukan Penghapal Teori

Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

Apakah kalian sudah pernah mencontek dalam ujian, untuk mendapatkan nilai minimal “B”? Saya rasa setiap orang pernah melakukan mencontek, baik itu melihat jawaban dari teman disebelah kita, membuat catatan-catatan kecil, membuat mural di tembok, bahkan yang lebih ekstrem lagi membuat tato kunci jawaban dibagian tubuh. Sungguh hal tersebut kita lakukan agar kita lulus dari kuliah-kuliah yang membosankan.

Ingat, ketika mencontek jangan sampai ketahuan sama dosen pengawas. Taruhannya nilai “E” alias tidak lulus mata kuliah yang sedang diuji.Tapi saya yakin orang yang membaca tulisan ini adalah orang yang lihai dalam hal contek-mencontek, dan juga saya yakin orang yang membaca tulisan ini tidak termasuk orang-orang yang suka nyontek, walaupun pernah melakukannya sesekali.

Banyak orang yang mengatakan mencontek adalah perbuatan tidak baik dan kita menyetujuinya meskipun tidak tahu dari mana letak ketidakbaiknya. Sebenarnya, ketika kita sebelum atau hendak mencontek kita juga sama membaca kunci jawaban atau mendengar kunci jawaban dari teman yang bisa memberi jawaban.Dari situ kita tahu, mengerti dan menyimpannya dalam kepala kita apa yang harusnya dijawab dan kalau bisa kita pengembangkan sebut teori tersebut dengan pengalaman-pengalaman kita. Walaupun demikian, mencontek sangat merugikan teman-teman penghapal teori.

Sempat terpaut pada benak saya, “Apa yang sudah kita dapat selama perkuliahan?” Merasa tidak mendapatkan apa-apa dari perkuliahan. Jangan berkecil hati, sesungguhnya manusia adalah mahluk yang sempurna, mahluk yang bebas dan juga mahluk pengubah.Bukan mahluk yang adaptif.

Itulah kata-kata Paulo Freire dalam Pedagogy of Oppressed. Dia juga menambahkan, pendidikan adalah sebuah proses pembebasan bukan penundukan. Dalam hal ini dia mengritisi bagaimana cara pengetahuan itu ditransformasikan terhadap siswa, apakah melalui ‘gaya bank’ atau ‘hadap masalah’.

Pernahkan pembaca merasakan bahwa kita adalah bejana yang kosong lalu diisi oleh air hingga bejana tersebut penuh? Saya mengilustrasikan hal inikarena saya merasakan proses belajar seperti apa yang ditulis pada Pedagogy of Oppressed.

“Guru mengajar, murid diajar. Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa. Guru berfikir, murid dipikirkan. Guru bercerita murid patuh mendengarkan. Guru menentukan peraturan, murid diatur. Guru memilih dan memaksa pilihannya, murid menyetujui. Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya. Guru memilih bahan isi pelajaran, murid menyesuaikan diri dengan pelajaran it. Guru mencampurkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatanny, yang dia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid. Guru adalah subjek dalam proses belajar, murid adalah objek.

Inilah cerminan proses belajar bangsa kita. Semakin dosen memberikan banyak teori kepada kita kemudian kita bisa menjawab (dalam Ujian) sama persis apa yang pernah diucapkan dosen, semakin baik si dosen memberikan sebuah pengetahuan.

Paulo Friere mengatakan pendidikan yang seperti ini adalah sebuah proses penundukan bukan pembebasan atau pendidikan ‘Gaya Bank’, maka keniscayaan yang terjadi adalah mahasiswa layaknya seekor binatang sirkus yang terus dilatih agar tunduk apa yang diperintah.

Dari pendidikan ‘Gaya Bank’ yang diterapkan di Kampus Tercinta dan kampus-kampus lainnya, saya dan para pembaca terpaksa melakukan mencontek ketika ujian tiba agar tidak mengulang sebuah mata kuliah dengan proses belajar yang diskriminatif ini.

Kita tahu kunci pendidikan di manapun tidak lepas dari tingginya sebuah nilai yang didapat oleh seorang mahasiswa tanpa mengindahkan fungsi sosial mahasiswa terhadap lingkungannya sehari-hari.

Walaupun demikian mencontek bisa terhindar bahkan terkikis habis, ketika proses belajar ‘Gaya Bank’ tersebut diubah menjadi proses pendidikan ‘Hadap Masalah’, di mana kesejajaran antara mahasiswa dan dosen tercipta.

Tugas dosen tidak hanya mengajarkan sesuatu tapi juga belajar. Para mahasiswa tidak diharuskan menghapal sebuah teori, tapi belajar bersama bagaimana memandang sebuah fenomena yang telah, sedang bahkan akan terjadi, serta menganalisanya. Hal demikian, pengetahuan tidak hanya dimonopoli oleh segelintir orang, karena pengetahuan tidak hanya didapat seberapa lama kita duduk di bangku perkuliahan tapi pengetahuan didapat dari perjalanan pengalaman hidup setiap orang.

Pendidikan hadap masalah semua yang ada dalam proses belajar adalah subjek dan dalam kesatuan tersebut adalah objek. Dosen belajar dari mahasiswa dan mahasiswa belajar dari dosen. Dosen menjadi rekan mahasiswa yang terlibat langsung dan merangsang daya kritis mahasiswa. Dengan begitu mahasiswa dan dosen mengembangkan daya kritis masing-masing dan fenomena dunia yang sedang mereka rasakan.

Aip Saifullah
Mahasiswa Ilmu Politik IISIP Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s