Opini

Birokrasi di Balik Rangka Besi IISIP Jakarta

Foto: Okezone.com

Foto: Okezone.com

Oleh: Bartanius Salvator Dony, mahasiswa Ilmu Jurnalistik angkatan 2011

“Biro Administrasi di IISIP yang dibatasi dengan rangka besi seperti penjara itu memberikan kesan pemisah yang jelas antara kampus dengan mahasiswanya. Tanpa sadar, kondisi seperti itu menjadikan pihak kampus terlalu eksklusif dan tertutup.”

Sore itu, Sabtu, 28 Desember 2013, merupakan hari terakhir minggu tenang di IISIP Jakarta. Seperti semester-semester yang lalu, antrean di Biro Administrasi Keuangan (BAK) semakin ramai. Dari dulu para mahasiswa lebih senang menyelesaikan administrasinya untuk bisa mengambil Surat Ijin Masuk Ujian (SIMU) di hari-hari terakhir sebelum ujian. Padahal seluruh mahasiswa tahu bahwa birokrasi kampus ini berbelit. Dan saat itu saya berharap bisa dengan mudah mendapatkan SIMU tanpa harus direpotkan birokrasi kampus ini.

Salah seorang mahasiswa bernama Hara yang antri di depan saya terlihat kesal karena tidak mendapatkan SIMU. Kebetulan saya kenal dengan dia. Saya mencoba bertanya kenapa dia tidak bisa mendapat SIMU. “Gue kurang 20 ribu, dia bilang gak bisa ikut ujian. Terus kalo mau ikut harus setornya lewat bank. Males banget gue,” katanya. “Gue juga gak dikasih tahu itu kurangya biaya apaan.

Kemudian seorang temannya datang dan bilang, “Udah tunggu aja sampe sepi, baru kita ajak debat. Masa cuma gara-gara uang 20 ribu lo ga bisa ujian?” Dengan raut muka yang kesal mereka pergi meninggalkan BAK.

Giliran saya yang berhadapan langsung dengan perempuan yang mengurusi BAK. Saya langsung memberikan bukti bayaran UAS. Tetapi perempuan lainnya yang bertugas mengecek data keuangan lewat komputernya, tiba-tiba berteriak, “Barta kamu kurang 30ribu ya?” Saya sudah tahu bahwa saya belum melunasi uang BEM. Saya jelaskan kepada mereka berdua bahwa setiap semester saya bayar uang BEM selalu setelah UAS, dan tidak pernah ada masalah.

Baru kali ini saya dipermasalahkan. Mereka tetap pada pendiriannya bahwa saya dilarang ikut ujian. Saya jelaskan lagi kalau saya hari Senin saya kuliah jam 8.00 dan tidak sempat ke bank. Dengan nada yang menyepelekan dia menjawab, “Masuk jam setengah 9, kita lebih tau ya. Kamu ke bank aja jam 8.

Saya tetap menolak dan tetap ingin membayar 30 ribu itu langsung di BAK. Tapi dia menjawab lagi, “Gak bisa bayar di sini, kamu harus bayar ke bank. Pokoknya kalo enggak, kamu ga bisa dapet SIMU.

Pembicaraan tersebut membuat saya semakin kesal, dan terakhir saya berkata kepadanya “Gimana kalau ini uang saya kasih mba aja sama ongkos ke bank. Jadi situ yang bayarin uang BEM saya ke bank.

Kemudian dia hanya diam dan melayani mahasiswa lain. Entah dia kesal atau apa. Dan akhirnya saya meninggalkan BAK tanpa SIMU.

Hari Senin (30/12) adalah hari pertama UAS. Saya sengaja datang lebih pagi untuk melanjutkan perdebatan saya yang tertunda pada hari Sabtu. Dan saya tetap tidak membayar kekurangan biaya sebesar 30 ribu itu ke bank.

Beruntungnya, wanita yang bertugas di BAK adalah orang yang sama, hanya saja sekarang ditemani oleh Lian Negara, kepala BAK. Langsung saja saya bicara kepada Bang Lian -sapaan akrab Lian Negara- bahwa biaya untuk ujian saya kurang 30 ribu dan saya bilang juga saya malas ke bank untuk menyetor uang yang hanya 30 ribu.

Dan beruntungnya lagi, Bang Lian membolehkan saya bayar langsung di BAK. “Males ya bayar segini doang pake ke bank. Yauda kamu bayar langsung aja di sini,” katanya. Wanita yang sebelumnya tidak memperbolehkan saya bayar langsung di BAK, hanya bisa diam. Saya pun meninggalkan BAK dengan SIMU di tangan.

Biro Administrasi di IISIP yang dibatasi dengan rangka besi seperti penjara itu memberikan kesan pemisah yang jelas antara kampus dengan mahasiswanya. Tanpa sadar, kondisi seperti itu menjadikan pihak kampus terlalu eksklusif dan tertutup. Selain itu, rangka besi yang memisahkannya juga mempersulit mahasiswa untuk berkomunikasi dengan orang yang bekerja di dalamnya.

Banyak kerugian mahasiswa yang disebabkan hal-hal sepele. Sampai-sampai seorang dosen mata kuliah Perkembangan Teknologi Media pernah bicara di depan kelas bahwa dia tidak mau terlalu mengurusi absensi karena birokrasi di kampus ini ribet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s