Opini

Surat Terbuka untuk Bapak Rektor

surat-cinta-6Oleh: Andy Tama

Assalamualaikum Bapak Rektor Kampus Tercinta. Salam sejahtera, Pak. Semoga Bapak dan keluarga senantiasa sehat selalu dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Bapak Rektor yang baik, selamat menjabat sebagai Rektor di kampus kami. Kampus Tercinta yang punya sejuta masalah birokrasi.

Saya punya pengalaman pahit, Pak, soal pengajuan ujian susulan. Barangkali perlu Bapak ketahui. Waktu itu, saya, juga seluruh mahasiswa IISIP Jakarta yang ingin mengikuti ujian susulan, dipaksa mengajukan surat permohonan dan surat pernyataan sakit dari dokter. Tetapi, Pak, meski sudah begitu, belum tentu juga kita diperbolehkan mengikuti ujian.

Saat itu, staf Bapak sambil memasang mimik wajah yang selalu tak berdosa, dengan mudahnya berkata, “Maaf gak diacc. Ngulang aja semester depan.” Mengapa hak kami untuk mengikuti ujian hanya ditentukan dengan penilaian satu sudut pandang dari staf Bapak saja?

Mungkin Bapak tak memahami perasaan kami ketika diperlakukan seperti itu. Kami berpikir, akan ada uang jutaan rupiah terbuang sia-sia, dan juga waktu pula. Bukankah tak ada satu orang di dunia ini tak ingin mengikuti ujian? Tetapi Tuhan berkehendak lain. Terkadang timbul pertanyaan dibenak saya, “Apa salah saya tidak diperbolehkan ujian?”

Bapak Rektor yang bijaksana, karena ulah staf Bapak juga lah banyak mahasiswa tidak dapat ikut kuliah kerja lapangan (KKL), atau mendapatkan indeks prestasi (IP) yang baik. Itu karena mereka hanya bisa mengikuti ujian beberapa mata kuliah saja. Bukan seluruhnya. Entahlah.

Tapi jangan kira cuma itu saja permasalahan kami, Pak. Ruangan sekretariat HIMA/UKM tak semuanya terfasilitasi. Hanya beberapa HIMA/UKM saja yang memiliki ruangan. Sedangkan kami diminta iuran kemahasiswaan yang sama. Apa yang bereda dari kami? Kami kesulitan untuk rapat jika kami meminjam ruangan kampus, karena rapat seringkali sampai sore, bahkan malam. Kami segan kepada Anak Buah Kampus, Pak. Mereka telah memiliki anak dan istri di rumah yang setia menunggu mereka pulang.

Bapak Rektor yang baik, datanglah kepada kami. Bicaralah kepada kami. Bukan sebagai pemilik kuasa, tetapi sebagai ayah yang berbicara kepada anaknya yang telah dewasa.

Semoga Bapak rektor tidak marah ketika membaca surat ini. Semoga mata bapak tidak melotot, wajah bapak tidak memerah, nafas bapak tidak tersengal sengal, jantung bapak tidak berdebar dengan cepat. Semoga tumbuh mekar senyum di bibir Bapak, dan segera membuat kebijakan yang menguntungkan kami.

Terima kasih Bapak rektor yang baik.

*Surat ini dibuat ketika penulis tidak diperbolehkan mengikuti ujian saat semester IV

Advertisements

One thought on “Surat Terbuka untuk Bapak Rektor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s