Esai

Sebuah Pesan Dilarang Merokok

no_smoking_89435Oleh: Detha Arya Tifada

Kepulan asap rokok memenuhi lorong kampus. Bercanda gurau menjadi ritual wajib sebelum menghadapi perkuliahan dengan penuh teori. Sambil duduk meminum kopi dalam sebuah gelas plastik, tanpa terasa membuka topik perbincangan ringan hingga berat tersaji meskipun dikejar waktu. Bahkan sesekali ada dosen yang tak merasa nyaman mencoba menegur mahasiswa “Kamu enggak lihat tanda itu?” sambil menunjuk pesan sederhana yang terpatri di tembok “Dilarang Merokok.”

No Smoking” biasanya menjadi penegas yang setia berada di bawah lambang tersebut. Sederhana memang, namun dirasa kurang efektif ketika dipasang di sebuah lorong dengan space di dinding yang seadanya. Semua mahasiswa tentu paham dengan pesan tersebut. Tapi tetap saja tak dapat mempengaruhi mahasiswa untuk berhenti merokok. Lorong kampus dianggap tempat yang sakral, sebuah aktivitas belajar mengajar di dalam kelas katanya bisa terganggu oleh asap rokok. “Kasian yang jadi perokok pasif,” ujar dosen.

Pesannya yang salah atau mahasiswa yang tak acuh? Tentu kedua elemen ini menjadi pengaruh yang besar akan aktifitas merokok mahasiswa. Sebagai salah satu mahasiswa yang mengambil ilmu komunikasi sebagai medium meraih cita-cita, hal ini justru terlihat dari pesan yang disampaikan empunya kampus tak cukup menarik minat mahasiswa untuk berhenti merokok.

Salah satu mata kuliah dalam perkuliahan, apalagi bagian dari Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), cukup miris melihat pesan yang tak lebih hanya menjadi penghias dinding. Padahal salah satu mata kuliah, Teori Komunikasi misalnya, memberi pemahaman nyata bagaimana sebuah pesan dapat diterima dengan baik dalam tiga tingkatan.

Knowledge, fase ini memberikan pemahaman akan sebuah pengetahuan. Misalnya pengetahuan akan bahaya merokok. Belief, ketika sudah mendapatkan pengetahuan tentang bahaya merokok, maka fase ini memberikan satu persepsi bahwa kita itu percaya atau tidak dengan pesan tersebut. Behavior, ketika sudah mempercayai sebuah pesan, maka otomatis akan jatuh kepada fase terakhir, di mana kita sendiri yang mencari informasi dan mencoba melakukan gerakan nyata akan bahaya merokok.

Melirik apa yang terjadi di kampus, maka sebuah kesimpulan pun hadir meski diamati secara mata telanjang. Pesan tersebut hanya sampai pada tahap pertama saja. Untuk mempercayai hingga mencari sendiri informasi tentu belum sampai ke arah itu.

Baiknya, jika benar-benar pihak kampus ingin memberhentikan secara total aktivitas merokok, maka dipersilahkan untuk berpikir outside the box, sebuah larangan sederhana hanya membuahkan hasil yang sederhana pula. Sesederhana pura-pura tak melihat pesan. Ketika ditegur dosen berkata, “Oh maaf, saya enggak lihat tanda dilarang merokok.”

Kini, dosen yang pintar atau mahasiswa, sih? Penyampaian pesan bisa dilakukan dengan berbagai cara, jika hanya masih seperti itu, tak jauh beda dengan sebuah perda DKI Jakarta bernomor 75 tahun 2005 tentang kawasan dilarang merokok. Ada punishment yang memberikan sanksi pidana saja masyarakat tetap bisa mengabaikan. Bagaimana pesan yang hanya berisi bacaan dilarang merokok? (Jangan bilang karena keperdulian kita yang kurang hah).

Membuat Tanda Dilarang Merokok

Hal ini bukanlah perkara mudah, sebuah tanda atau lambang tak semuanya bisa dicerna matang-matang oleh kita. Saya pribadi saja lebih enjoy merokok di lorong dibanding harus jalan keluar lorong yang menyediakan asbak untuk merokok. Lokasi yang jauh serta tanda larangan yang biasa saja menjadi faktor utama kenapa merokok di lorong kampus.

Sederhana, jika ingin merubah kebiasaan itu, mari berpikir sedikit kreatif, kampus yang dikenal dengan kampus terbaik dalam menciptakan sarjana bergelar ilmu komunikasi pun bisa saja begitu. Teori yang diberikan didalam kelas tampak berbeda ketika berada di luar ruangan. Penyampaian teori komunikasi yang dosen berikan seperti teorinya Gebner atau ABX Newcomb bisa dijelaskan sempurna, namun hanya menjadi sebuah retorika saja. Fakta mengatakan hal yang sebaliknya.

Edukasi bisa saja berupa bak sampah dengan gambar paru-paru manusia transparan sebagai asbak. Bisa dibilang mengadopsi budaya pop saat ini lebih mudah dicerna dibanding cara-cara lama, berupa pesan singkat atau punishment. Dinding-dinding di lorong dibuat mural, entah dalam bentuk gambar, bacaan, quote yang mengarah ke bahaya merokok. Di samping itu, mural juga bisa menjadi medium pengantar mood dengan warna-warni yang mencerahkan penglihatan.

Kita tentu mengenal adanya Hari Batik nasional, bukan? Kenapa tak diganti dengan hari tanpa rokok setiap Jumat di kampus, misalnya. Perlu diketahui hari wajib pakai batik ke kampus setiap Jumat sungguh sangat tak mampu menjelaskan atau bukan cerminan bahwa Indonesia itu multicultural. Maka dari itu lebih baik dialihkan ke hal yang lebih positif.

Bukannya tak optimis, sebagai generasi penerus bangsa akan malu nantinya jika hanya dapat mengadopsi gaya old school untuk generasi mendatang. Masalah efektivitas saran di atas mungkin tak terlalu efektif. Niscaya dengan sentuhan gaya baru atau something fresh ideas hal itu akan berubah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s