Esai

Jurnalistik Musik Dulu dan Sekarang

Oleh: Omar Abidin Gilang, dosen IISIP Jakarta

Foto: Alika Khanza

Foto: Alika Khanza

Jurnalistik, adalah kegiatan mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyajikan hasil liputan melalui media. Kegiatan jurnalistik ini terus berkembang dari waktu ke waktu, sampailah hari ini kita membahas jurnalistik musik. Sebelum ini, kita telah dikenalkan dengan jurnalistik cetak, jurnalistik film, jurnalistik radio, jurnalistik televisi dan belakangan dikenal dengan jurnalistik media on line. Ada kedekatan yang luar biasa antara jurnalistik dengan media, hal ini beralasan mengingat setiap hasil karya jurnalistik tersebut membutuhkan wadah sebagai tempat aktualisasi dari karya itu sendiri.

Jurnalistik musik adalah pelabelan dari hasil liputan seorang pewarta yang memiliki fokus kajian musik. Hasil liputan musik tersebut disajikan dalam media (bisa di media cetak atau elektronik). Seperti juga liputan perang, kuliner, olahraga, budaya dan lain sebagainya. Bisa jadi dalam waktu dekat akan ada yang namanya jurnalistik supranatural.

Jurnalistik musik merupakan ruang mediasi yang menghubungkan antara artis – industri musik dan konsumen penikmat musik. Bagi artis dan industri musik, karya para jurnalis dalam mengulas satu genre musik atau biografi pemusik merupakan satu media promosi yang menarik. Bahkan bisa menjadi referensi tertentu dalam melakukan strategi promosi. Bagi penikmat musik, kabar terbaru yang dibawa oleh jurnalis ke ranah publik menjadi diskusi yang menarik. Tidak menutup kemungkinan memunculkan “life style”.

Peran teknologi tidak alpa dari proses jurnalistik saat ini, tidak terkecuali jurnalisme musik. Teknologi seharusnya menjadikan si wartawan kreatif. Si wartawan harus peka terhadap perkembangan teknologi terbaru. Keluasan wawasan dapat diakses dari sini, misalnya melalui Twitter si wartawan dapat mengetahui tentang kehidupan pribadi atau aktifitas si aktris.

Paparan media yang begitu masif tentang artis tertentu tidak menutup kemungkinan akan menumbuhkan “kegilaan” di segmen tertentu. Karena sisi yang diangkat dalam ulasan media tidak hanya penampilan panggung atau rencana rilis album berikutnya. Kehidupan pribadi dan privasi yang mengugah keingintahuan menjadi bahan yang menarik untuk diangkat dalam terbitan media. Lihat saja Justin Bieber yang berhasil menciptakan generasi muda rela menunggu kedatangannya di bandara. Belum lagi demam Korea yang membahana badai halilintar.

Bagi para pecinta musik, berita tentang aktris favoritnya merupakan terbitan yang ditunggu. Hebatnya jika pelabelan “liputan khusus”. Sebagai wartawan, sejatinya memahami apa yang ingin diketahui dapat disajikan. Keterbatasan mengenai pengetahuan tentang musik, kesulitan menembus sumber, ketidak pahaman tentang etika dan hukum pers seringkali sajian yang dipertontonkan lewat media menjadi demikian dangkal- sekedar konser yang tidak mampu mengungkap dibalik konser itu sendiri. Segala keterbatasan itu akhirnya menjadi permakluman dari redaksi, lebih parah pembaca / penonton menerima sajian dalam kondisi yang tidak berdaya.

*nahkah ini sebelumnya menjadi materi dalam diskusi Bincang Musik Teater Kinasih, Desember 2012 silam.

Advertisements

One thought on “Jurnalistik Musik Dulu dan Sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s