Sosial

Tuhan Tak Pernah Ikut Kuliah

Oleh: May Rahmadi

Ilustrasi: istimewa.

Ilustrasi: istimewa.

Di IISIP Jakarta, kampus saya, kabarnya ada beberapa dosen yang tak akan memberi nilai A atau B kepada mahasiswanya. Isu yang beredar, menurut dosen-dosen tersebut, nilai A hanyalah untuk Tuhan, B untuk dosen, dan C untuk mahasiswa. Saya tak percaya. Saya rasa, itu hanyalah sebuah jokes.

Ini Sabtu pertama di awal perkuliahan semester genap. Di depan kelas, saya bergabung dengan tiga senior yang tengah menunggu datangnya sesosok lelaki bertubuh besar dengan kepala sedikit gundul dan memakai kacamata tebal. Lelaki itu Kristiyanto, dosen mata kuliah Penulisan Pendapat, yang akan mengajar di kelas kami. Sialnya, salah seorang dari mereka mengatakan, Kris adalah salah satu dosen yang hanya akan memberi — paling bagus — nilai C kepada mahasiswanya. Saya pun gusar.

Terlebih lagi, saya mengingat perkataan teman saya, Rizky. Dia bilang, selama puluhan tahun Kris mengajar, hanya ada satu mahasiswa yang pernah diberi nilai A. Mahasiswa itu adalah Netty, perempuan yang kini juga menjadi dosen di IISIP. Rizky adalah mahasiswa Kris, semester kemarin.

Saya semakin penasaran, semakin gusar. Apa itu benar? Kalau benar, bukankah usaha mahasiswa yang belajar dengan sungguh-sungguh untuk menaikkan indeks prestasinya akan menjadi sia-sia? Lagi pula, sejak kapan Tuhan mengikuti kuliah? Apakah namanya ini kalau bukan kesewenang-wenangan yang didasari atas kepercayaan yang tak masuk akal? Lebih liar lagi: jangan-jangan karena ia orang Jawa dan usianya tua, sehingga ia berlaku seperti itu? Oke, ini stereotip dan generalisir yang membahayakan.

Lelaki yang kami tunggu tunggu itu pun datang. Kelas dimulai. Kris menggeser bangkunya ke tengah kelas, mendekatkan jarak dengan mahasiswa. Sambil duduk dan memegang spidol di tangannya, ia mengenalkan diri. Dulu ia sempat lama menjadi wartawan, katanya. Itu yang kemudian membuat dirinya diminta menjadi dosen mata kuliah praktek. Pengenalannya begitu singkat. Ia kemudian mempersilahkan kami untuk bertanya mengenai dirinya.

Saya cepat-cepat angkat tangan untuk konfirmasi mengenai isu penilaian yang tak masuk akal itu.

Mendengar pertanyaan saya, Kris menarik nafas panjang dan menyenderkan punggungnya. Ia terdiam sebentar. Ada perubahan ekspresi di wajahnya. Nampaknya ia bosan, barangkali pertanyaan itu sering ia dapat.

Ia menjawab dengan tenang, sesekali memberi senyuman. Tapi saya tak begitu ingat detil jawabannya. Kurang lebih, ia menjelaskan, ia tak ingin mahasiswa menjawab pertanyaan ujiannya seperti jawaban anak SD. Analoginya, kalau pertanyaannya satu ditambah satu, jawabannya hanya dua, itulah jawaban anak kecil. Mahasiswa tak pantas menjawab seperti itu, katanya. Mahasiswa harus menjawab lebih rinci, lebih detil, dan lebih terstruktur.

Kebanyakan mahasiswa menjawab seperti jawaban anak kecil, katanya. Itu yang membuatnya sering memberi nilai C.

Saat menjelaskan, tiba-tiba spidol di tangannya jatuh tak begitu jauh dari kakinya. Lelaki 63 tahun itu sejenak berhenti. Kris yang masih duduk, mendekatkan spidol itu dengan kaki, lalu mengambilnya. Setelah itu, ia kembali melanjutkan.

Selain jawaban yang rinci, Kris menginginkan penggunaan bahasa yang tepat, yang komunikatif. Menurutnya, orang komunikasi harus merawat bahasa dan menggunakannya dengan orientasi pada pemahaman komunikan.

Kris juga mengatakan, dirinya selalu mencorat-coret mengoreksi jawaban ujian mahasiswanya. Ia ingin menegaskan, dirinya punya dasar untuk memberi nilai. Meski begitu, ia mengakui, ada banyak mahasiswa yang tetap tak puas dengan penilaiannya. Ia sering mendapat protes. Mengenai hal tersebut, Kris menegaskan, dirinya siap diajak diskusi.

Tapi anehnya, ia tak pernah memberi nilai ujian di bawah empat, dan di atas delapan. Menurutnya, tak ada manusia yang benar-benar bodoh, atau benar-benar pintar.

Di akhir penjelasannya, Kris menceritakan pengalamannya saat mengobrol dengan seorang Pendeta. Ia menyampaikan kepada kami apa yang Pendeta itu sampaikan kepadanya, “mendengarkan itu lebih susah dari pada bicara. Tapi cobalah belajar mendengar.”

Sementara di kelas lain, Dewi, dosen Komunikasi antar Pribadi dengan jelas menegaskan kriteria penilaiannya. “Semua mahasiswa berhak mendapat nilai dari satu sampai 10, tergantung usahanya,” katanya. “Tuhan tak perlu diberi nilai. Tuhan tak pernah mengikuti kuliah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s